. Coretan Pena Anak Bebek .

Ternyata Jalan ini Mudah

Saturday, September 10, 2016

~Dan lihatlah sayang, betapa nampak jelas binar bahagia dalam sorot mataku, kini aku tak perlu berteriak "aku bahagia" karena mataku telah memberi isyarat tanpa aku harus bicara~
Saya yakin takdir tak pernah salah bidik, Allah selalu memberi rencana dan jalan terbaik bagi setiap hambaNya. Dia tak pernah pilih kasih, memberi ujian satu paket dengan petunjuk jalan keluar dan juga memberi kekuatan agar hambaNya tidak jatuh tersungkur atas ketidakmampuan dirinya menghadapi ujian.
Meski saya juga tidak mengelak, tidak semua orang menyadari akan hal itu, termasuk saya. Saya pernah gagal menghadapi ujian dalam hidup saya hingga memilih terapi psikiatri ke psikiater, walaupun obatnya tidak pernah saya tebus, karena bagi saya saat itu yang penting saya bisa berkonsultasi kepada orang yang berkompeten atas kondisi yang saya hadapi.
Mungkin saya terlalu berlebihan, atau terlalu baper dalam menjalani semua yang harus saya hadapi. Tapi sungguh saat itu sangat berat menjalani hidup sebagai bocah broken home dengan segala masalah di sekitar saya.
Saya tumbuh menjadi balita yang penuh kasih sayang dan berkecukupan secara materi bahkan jauh diatas teman-teman di desa tempat tinggal saya. Sayangnya Kristal indah dalam rumah tangga orang tua saya jatuh terpelanting dalam usia pernikahan yang masih muda, pecah menjadi kepingan sangat runcing yang melukai anak-anaknya, sehingga saya menjadi pincang tanpa seorang ayah, juga buta tuli tanpa kesempurnaan kasih sayang Ibu.
Saat SD saya dikucilkan oleh teman-teman sekolah, sebagian guru, juga tetangga, karena suatu hal yang sangat terkait erat dengan broken home dan tidak bisa saya ceritakan disini. Hal itu begitu berat bagi saya, belia 9 tahunan sudah harus menanggung beban moral sedemikian berat. Inilah titik tolak kenapa saya tumbuh menjadi individu yang introvert dan cenderung tak peduli dengan lingkungan sekitar saya.
Alhamdulillah, sentuhan kasih sayang Allah menuntun saya menuju jalan yang baik, saya begitu bersemangat meraih prestasi akademik sebaik mungkin, agar saya bisa masuk sekolah unggulan di kota saya sebagai pintu pembuka agar saya bisa keluar dari lingkungan tempat tinggal saya saat itu. Saya membangun mimpi setinggi mungkin, agar luka tak semakin membusuk tetapi sembuh oleh pencapaian hidup saya. Allah mengajari saya menjadi yang kuat, meski sejatinya saya sangat lemah. Allah mendekap erat, meski saya sering protes marah dan menuntut agar semua kembali seperti semula.
Alhamdulillah, Allah mudahkan semua jalan, saya lolos di salah satu SMP unggulan di kota saya meski bukan sekolah yang terbaik. Karena saya memang tidak berani menaruh harap ke sekolah terbaik itu dengan latar belakang saya yang bocah desa terpencil, saya takut kalah cerdas dari teman-teman saya apabila saya bersekolah disana, karena yang saya inginkan, saya tetap harus berprestasi agar jalan menuju mimpi saya semakin mudah.
Dan ternyata, Allah sangat mencintai saya. Dia tidak membiarkan saya terlena dengan zona nyaman yang saya jalani. Di tempat tinggal yang baru, tidak semulus yang saya bayangkan, saya memang tinggal bersama pakdhe, tapi semua saudara ayah ingin mengambil peran dalam mengatur hidup saya. Parahnya, ambisi mereka tidak sejalan dengan sikap mereka, saya lebih diperlakukan seperti pembantu yang hanya disapa saat butuh bantuan tenaga saya ketika keluarga besar sedang berkumpul. Itu yang membuat tekad saya semakin kuat bahwa saya harus mampu merubah hidup saya, agar saya tidak lagi menjadi "A child called it" seperti dalam judul buku pertama Dave pelzer.
Alhamdulillah, dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan, istri Pakdhe yang mengasuh saya sangat menyayangi saya, memenuhi segala kebutuhan saya sampai urusan perempuan yang paling detail, selalu mensupport saya, dan menuntun agar saya dekat dengan Sang Pemilik Hidup. Sehingga membuat saya mampu mengabaikan orang-orang yang mengkerdilkan saya, yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana saya harus bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya dan membahagiakan orang-orang yang menyayangi saya.
Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya sampai bangku kuliah melalui kasih sayang simbah saya dari pihak Ibu, beliau yang membiayai kuliah saya. Allah ... Sungguh jalan ini mudah, tak ada yang sulit, hanya kadang manusia yang kurang bersyukur atas nikmat yang luar biasa dalam hidupnya.
Prestasi saya dibangku kuliah biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang tidak berprestasi, IPK saya hanya 3,28. Tapi saya bahagia. Allah mudahkan saya mendapat beasiswa, juga rejeki Dari jalan lain melalui jualan gamis, bros, juga mengajar privat. Dari sinilah saya bisa hidup berkecukupan sebagai seorang mahasiswa dan memakai barang-barang branded mulai Dari sepatu, pakaian, tas, bahkan atk. Meski di akhir semester saya harus jungkir balik karena sudah tidak mendapat uang saku dan kesehatan saya semakin tidak bersahabat yang membuat saya harus berurusan dengan kamar rawat inap juga check up rutin di Dokter spesialis sebuah rumah sakit besar di Kota saya kuliah. Ah iya ... Ini teguran dari Allah agar saya tidak terlena dengan limpahan kasih sayang yang Dia anugerahkan untuk saya.
Allah kembali menunjukkan cintanya yang maha dahsyat, Kali ini berkah untuk adik perempuan saya. Setelah lolos di kampus saya melalui jalur regular, dia lolos beasiswa bidikmisi susulan. Akhirnya dia bisa merasakan bangku kuliah setelah hampir putus asa karena keadaan waktu itu tidak memungkinkan.
Pasca lulus sidang TA, saya langsung bekerja meski tidak linear dengan pendidikan saya. Bagi saya saat itu yang penting saya bekerja agar bisa melunasi hutang 9,8 juta yang saya pakai untuk biaya hidup saya di semester akhir juga biaya adik saya sebelum mendapat beasiswa bidikmisi. Dan sungguh, Allah sangat memudahkan jalan ini, Allah kirimkan manusia-manusia baik yang tidak menagih hutang saya sampai saya mampu membayar, bahkan membayarnyapun saya cicil dan hutang itu lunas baru 1,5 tahun setelah saya lulus kuliah.
Saya saat ini memang belum mampu meraih mimpi-mimpi saya 16 tahun yang lalu. Bahkan saya sering gagal dalam seleksi pegawai untuk pekerjaan yang linear dengan pendidikan terakhir saya. Tapi saya bersyukur atas anugerah yang Allah limpahkan kepada saya, kadang saya masih seperti bermimpi bahwa Allah telah mengantar saya sampai sejauh ini. Sungguh, ini cinta yang luar biasa Dari Sang Pemilik kehidupan kepada hambanya.
Allah pertemukan jodoh saya dengan sangat mudah, meski saya sadari cara saya salah karena bukan dengan jalan syar'i. Saya punya alasan kuat kenapa menghindari jalan itu yang tidak perlu saya sampaikan disini untuk menghindari perdebatan. Suami saya satu kampus dengan saya, Dan pernah satu kelas di MKU PAI, kami pernah saling meminjam pulpen untuk tanda tangan presensi saat dosen tidak datang, tapi kami baru saling dekat pasca saya lulus. Bermula dari saling cerita prestasi kami di bangku sekolah sampai berbagi tentang resolusi masa depan kami, disini kami merasa cocok dan berkomitmen untuk membangun rumah tangga bersama, meski saya harus menunggu beberapa waktu karena suami saya saat itu masih skripsi.
Saya suka kerja keras suami saya, meski harus berurusan dengan skripsi dalam waktu yang cukup panjang, prestasi akademik dia bagus, Dan dia mampu memetakan masa depan dengan baik, dia ambisius, tapi realistis. Ambisinya mampu dia imbangi dengan kerja kerasnya. Pasca lulus dia langsung bergerak mengeksekusi satu persatu rencananya. Bukan hanya plan A, tapi juga plan B dia eksekusi dengan baik sebagai jalan keluar apabila plan A gagal.
Alhamdulillah, dia lolos seleksi penerimaan mahasiswa S2 di UI, disusul lolos seleksi beasiswa LPDP yang juga bersamaan dengan pengumuman final seleksi pegawai di sebuah perusahaan ternama milik BUMN dibidang MRO. MasyaAllah, begitu luar biasa Allah mudahkan jalan rejeki kami. Saya sempat marah ketika dia memutuskan memilih plan B dengan melepas S2 dan beasiswa LPDP yang sudah dia impikan sejak kuliah, bahkan saya melihat betul betapa dia jungkir balik memperjuangkannya. Namun dengan tegas dia menjawab, "realistislah ndra, aku bertanggung jawab menafkahimu. Bekerja adalah pilihan paling realistis saat ini. Aku tetap akan kuliah lagi kok, tapi belum saat ini." Melelehlah tangis haru saya, betapa dia sangat bertanggung jawab atas diri saya, seorang perempuan yang baru seumur jagung hadir dalam kehidupannya.
Alhamdulillah, Allah selalu memberi kemudahan dalam rumah tangga kami. Jalan rejeki kami sangat mudah, kami merintis rumah tangga benar-benar tanpa tabungan. Uang saya selama saya bekerja saya simpan untuk biaya kuliah adik bontot saya di rekening tabungan yang tidak pernah saya otak atik, jadi saya anggap 0. Suami saya baru 2 minggu bekerja otomatis belum gajian. Namun Allah tidak membiarkan kami dalam kesulitan, kami mendapat bekal uang dari Pakdhe yang mengasuh saya selama ini yang cukup untuk biaya hidup sebelum suami gajian, tinggal di hotel sebelum mendapat kontrakan, dan untuk membayar uang muka sewa rumah di lingkungan yang bagus.
Alhamdulillah, rezeki begitu mudah Allah berikan, kami bisa melunasi biaya sewa rumah selama setaun kedepan, hidup tanpa kekurangan keuangan, 6 bulan bekerja suami telah menjadi pegawai tetap, dan masyaAllah Allah memudahkan kami membeli rumah di cluster, suatu limpahan rejeki yang bener-benar tidak kami sangka bisa kami dapatkan secepat ini.
Sekarang, adik perempuan saya telah lulus kuliah, dan bekerja di kantor suami saya setelah sebelumnya juga mendapat banyak kemudahan lolos seleksi di perusahaan perbankan milik asing dan Ind*f**d. Namun takdir menuntun adik saya berada di sini, dan saya yakin ini adalah pilihan yang terbaik menurut Allah.
Alhamdulillah, setelah 2 tahun gagal SBMPTN, adik bontot saya sekarang kuliah di universitas swasta di kota Yogyakarta. Saya dan adik perempuan saya saling berbagi peran untuk membiayainya.
Sungguh, apa yang saya tulis tidak ada maksud riya sedikitpun. Hanya ingin berbagi, bahwa Allah selalu memberi ujian satu paket dengan kemudahan jalan keluar, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk merubah nasib hidup hambanya.
Kami bertiga, yang sering saya sebut "tiga anak bebek" tidak pernah menyangka akhirnya bisa hidup seperti saat ini, dan ini bukti nyata bahwa "sesudah kesulitan ada kemudahan" yang Allah tekankan sebanyak 2 kali dalam QS.Al-Insyirah: 5-6.
Haii engkau yang sedang terluka karena beratnya ujian hidup, jangan berkecil hati, yakinlah Allah selalu ada disisimu untuk menguatkan dan menuntunmu menuju jalan keluar.
::Dari Indra, yang pernah tersungkur karena gagal bersyukur.
Read Post | komentar

Berbenahlah, Kamu Sudah Menikah

Saturday, September 3, 2016

Senengnya tinggal disini itu ... Mau ngemall tinggal maknyuk sampe, tapi mall kecil rasa ITC, satunya mall sepi yang banyak spot kosong. Kalau mau bagusan dikit, harus jalan berkilo meter dulu itupun kalau sukses membangun mood buat jalan jauh dibanding ngebo seharian.
Jadi, strategis banget buat terapi jiwa para shopaholic biar sembuh dan waras. Juga sangat efisien waktu karena setiap ngemall cuma cari barang kebutuhan yang mentok-mentoknya di m*ta**ri sama ca**f*ur, habis itu pulang, ngebo lagi buat nikmatin weekend.
Bagiku, ini yang dimaksud dengan keberuntungan. Eh bukan, tapi anugrah terindah dari Gusti Allah yang maha keren. Di usia yang masih subil alias super labil untuk berumah tangga, saat melihat teman-teman masih asyik hahahihi nongki-nongki, kami sudah harus mulai menguranginya agar bisa menabung buat masa depan keluarga kecil kami, biar saat anak-anak kami muncul mereka engga ngerasain yang namanya hidup susah dan tinggal di rumah kontrakan karena duit emak-bapaknya habis buat foya-foya. Disinilah saya bahagia tinggal di kota saya sekarang, meski berembel-embel Jabodetabek, tapi masih ramah buat banyak nabung.
Statement diatas sebenarnya bukan hasil pemikiran saya, tapi hasil cuci otak Tarjo kepada saya. Menurut saya, bagus juga sih meski awalnya sering ada drama manyun dan ngambek setiap pulang dari mall. Lama-lama mikir juga, ada benarnya juga Tarjo, dan mulailah otak keras saya agak sedikit melunak dan berdamai dengan sistem yang dia bangun.
Kata Tarjo, menikah berarti berani menanggung konsekuensi, termasuk menurunkan standar hidup, bukan lantaran tak mampu, tapi karena berani berinvestasi materi untuk masa depan. Kata Tarjo, semua orang berpotensi shopaholic, bedanya pada kemampuan pengendalian diri masing-masing orang.
Yang kemudian saya tau, menikah itu mudah, tapi membangun pernikahan itu susah, kecuali hati kita gagah untuk mau berubah, bukan cengeng yang bikin muka basah. Meski godaan sering buat hati goyah, teruslah melangkah berbenah, jangan kalah!
::Dari Indra, bocah ingusan yang sedang belajar dewasa berumah tangga. Ini hanya sepotong cerita dari sudut pandang saya yang minim ilmu, dan tentunya setiap orang punya cerita dan sudut pandang yang boleh jadi berbeda
Read Post | komentar

Sepatumu Bukan Sepatuku

Tuesday, August 23, 2016

Pertanyaan yang tidak pernah terlepas dari orang yang sudah menikah adalah, "sudah hamil belum?" Dan itu wajar!
Yang tidak wajar adalah, ketika jawaban pertanyaan itu "belum" kemudian si penanya memberondong banyak pertanyaaan yang berlanjut ke justifikasi yang menyakitkan seolah belum hamil merupakan salah besar.
Kadang, dalam suatu kondisi, sebuah pertanyaan tidak perlu berlanjut ke hal yang lebih detail untuk saling menjaga perasaan yang tentunya penting untuk keberlangsungan tali silaturahmi. Karena tidak mustahil si obyek pertanyaan akan memilih menyingkir jika terus menerus ditanya dengan pertanyaan yang sama juga ditambah justifikasi yang menyakitkan.
Tidak ada orang yang merencanakan masa depan yang buruk atas dirinya dan keluarganya, semua pasti berjuang mempersiapkan hal terbaik.
Demikian juga tidak ada pasangan normal yang menikah tetapi tidak menginginkan memiliki keturunan. Semua pasti menginginkan hal itu! Bedanya, setiap rumah tangga punya cerita, punya rencana masa depan yang sudah direncanakan, punya banyak pertimbangan atas segala pilihannya, dan tidak semua hal itu perlu dipaparkan panjang lebar ke para penanya.
Ada baiknya, tak perlu terlalu mengambil peran dalam urusan rumah tangga orang lain, kecuali jika diminta berpendapat. Sepatumu memang indah dikakimu, tapi belum tentu indah di kaki orang lain. Boleh jadi justru kekecilan atau kebesaran, bahkan nampak sangat jelek dan tak layak untuk dipakai.
Tak perlu saling membandingkan, setiap kaki punya ukuran sepatu, tidak semua kaki bisa memakai sepatu dengan ukuran dan model yang sama.
Memberi masukan tidak salah, itu tanda perhatian. Yang salah adalah ketika memaksa agar masukan anda dieksekusi oleh orang yang anda beri masukan! Sepatu Anda berbeda dengan sepatu orang lain, tolong jangan paksakan, atau silaturahmi akan tergadai.
Anda boleh berpikir "setiap anak sudah Allah atur rejekinya, jangan menunda" atau juga boleh menasehati "pondasi finansial sudah kuat, kurang apa lagi? Nanti malah susah punya anak kalau menunda." Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi, tidak semua orang memiliki pola pikir yang sama.
Ada orang yang berpikir, menunda anak sama saja menolak rejeki, ada juga yang berpendapat bahwa dengan menunda ia akan semakin matang mempersiapkan bekal terbaik untuk anak-anaknya. Semua benar, tidak ada yang salah, hanya sudut pandang saja yang berbeda.
Mari saling menghargai perbedaan, bukan saling mencederai :)
::Dari Indra, bocah ingusan yang sedang mempersiapkan bekal untuk masa depan keluarga kecilnya.
Read Post | komentar

Kamisku untuk Sabtu Bersama Bapak

Thursday, July 14, 2016

"Kamu itu sakit nunda terus ke rumah sakit, malah memprioritaskan nonton." kata tarjo sepulang kerja saat saya meng-cancel check up dan memilih nonton sabtu bersama bapak, karena saya telah menantinya sejak lama.
Bapak, meski telah terpisah dalam kehidupan yang berbeda, nyatanya perannya tetap mampu bersanding bersama tumbuh kembang satya dan saka dalam rekaman pesan bapak yang selalu diputar setiap hari sabtu yang mampu memberikan pengaruh besar pada proses pembentukan karakter satya dan saka.
Saya seperti berada dalam potongan cerita itu, betapa sentuhan bapak dalam mozaik kisah kanak-kanak saya masih melekat erat dalam karakter saya, bahwa saya harus menjadi seperti yang selalu bapak minta saat saya TK, dengan "menjadi juara" yang kemudian dikuatkan oleh persuasi ibu bahwa saya memang harus tetap menjadi juara meski bapak telah pergi.
Saya tumbuh menjadi individu yang sangat ambisius atas mimpi saya, sayangnya saya rendah toleransi dan kurang humanis. Lebih fokus pada pencapaian saya dan mengabaikan hal-hal yang tidak memberikan kontribusi dalam pencapaian saya. Hingga takdir menuntun saya menjadi seorang istri yang ternyata disinilah saya mulai dibawa untuk melihat dunia yang lebih luas, bahwa apa yang saya pegang selama ini akan menjadi petaka jika saya tak mampu melunakkannya, karena hidup saya kini bukan hanya tentang saya tapi juga tentang suami saya dan semua hal yang berkaitan dengannya.
Saya seperti menemukan cerita serupa dengan saya pada rumah tangga satya dan rissa. Bedanya, karakter satya justru ada dalam diri saya, bukan suami saya. Saya seperti menemukan pembenaran bahwa anak yang tumbuh tidak dengan sentuhan langsung oleh bapak akan menjadi individu seperti diri saya maupun satya. Yang kemudian segera disanggah oleh potongan cerita berikutnya tentang rumah tangga satya yang mulai retak akibat karakter satya yang terlalu teguh pada prinsipnya. Kondisi itu baru membaik saat satya mulai melunakkan prinsipnya dan berusaha memahami bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan hanya diukur dari prinsip yang dia yakini, melainkan juga dari sudut pandang rissa dan juga anak-anaknya.
Hingga akhirnya disini saya kembali menemukan pembelajaran baru dalam berumah tangga. Bahwa kebahagiaan berumah tangga tidak dapat diukur dari seberapa besar kita berkorban untuk pasangan juga anak-anak (jika sudah ada), melainkan seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidup bersama kita. Boleh jadi mereka terluka karena kita terlalu teguh pada prinsip kita sampai mengabaikan hak mereka yang sebenarnya jauh lebih mudah dan sederhana dibanding apa yang kita korbankan untuk mereka. Berumah tangga bukan hanya cerita yang dilakoni oleh seorang saja, melainkan kolaborasi dari suami juga istri sehingga bukan hanya salah satu pihak saja yang menentukan jalan cerita rumah tangga, setiap keputusan harus hasil kesepakatan dari keduanya sehingga rumah tangga bahagia, bahagia yang sebenarnya bahagia, bahagia yang membahagiakan :)
:: dari indra, bocah ingusan dan sedang belajar keras agar dewasa berumah tangga.
:: untuk kamu yang diam-diam selalu stalking sosmed indra, genggam tangan indra lebih erat, agar indra tak tertinggal jauh dari langkahmu berjalan, agar langkah kita sejajar dan kita bisa banyak bicara tentang hari ini juga cerita esok yang akan kita tempuh.
Read Post | komentar

Sampaikan, Agar Pasanganmu Mengerti

Friday, July 8, 2016

Beberapa waktu lalu, saya menangis terisak sok melankolis bilang, "pokoknya harus anterin ke LB*, indra engga mau kalau sampai nanti masuk kerja muka indra masih item jerawatan jelek kaya gini."
Saya menangis membabi buta, sampai menelan umb*l banyak dan kesulitan bernafas, masih sempat-sempatnya terus nyerocos, "pokoknya indra engga suka muka indra keliatan jelek. Indra sebel, indra tertekan. Mmaz selalu ngga bolehin, muka indra jadi kaya gini, mmaz engga memfasilitasi indra buat cantik"
Dan lelaki, kadang sisi kepekaannya kurang, tanpa rasa berdosa suami saya hanya menjawab, "indra kan yang pegang semua uang, kapan mmaz larang? Kemarin itu macet parah, tau sendiri kan?"
Perempuan, dalam kondisi emosi karena keinginan tak tercapai, tentunya sulit berpikir jernih, boro-boro bisa ngerti kalau suami menolak menemani ke skincare karena macet, yang ada dalam pikiran adalah suami ogah memfasilitasi istri untuk cantik, pelit, engga perhatian. Padahal jelas-jelas ATM payroll diserahkan ke istri dan diberi kemerdekaan sepenuhnya untuk mengelola.
Saya perempuan jawa yang belum luntur jawanya. Masih sering menggunakan bahasa kode setiap inginkan sesuatu, merasa "pekewuh" kalau harus to the point ingin ini itu, gengsi takut dibilang banyak minta padahal sebenarnya butuh, Seperti kasus diatas contohnya, setiap hari cuma teriak didepan cermin, "muka indra iteman, hidungnya jerawatan, sebel indra." maksud hati agar suami menanggapi dengan ajakan ke skincare, jadi engga keliatan kalau minta.
Suami saya besar dan dididik oleh lingkungan dengan culture yang sangat berbeda dengan keluarga saya, karena kami berbeda suku. Apa-apa harus disampaikan dengan jelas sesuai dengan maksud dan tujuan, sulit memecahkan bahasa kode, dan seperti biasa selalu menjawab dengan tanpa berdosa setiap saya teriak protes kalau dia ngga peka, "mmaz ngga ngerti, apa susahnya tinggal bilang minta itu."
Ribuan menit saya mengukir cerita bersama suami saya, kami sering tersungkur dan cedera karena keduanya sekeras batu dan berjubah keangkuhan. Semuanya merasa telah melakukan cara yang terbaik dalam menjalani perannya sebagai tokoh utama cerita rumah tangga kami, belum saling mengerti bahwa ada yang salah dalam cara kami.
Hingga suatu malam menjelang pagi, setelah suara saya parau karena kelelahan menangis, kali pertama kami berbicara dari hati, saling melepas jubah keangkuhan, belajar mendengar untuk mencari titik yang dicari agar saling pahami. Ternyata titik temunya sangat sederhana, suami inginkan saya to the point dalam memyampaikan apapun, bicara baik-baik dan tidak mudah marah. Sedangkan saya menyampaikan agar suami lebih peka, mengerti yang saya inginkan, kalau tidak faham jangan diam, tetapi bertanya. Tercapailah kesepakatan bersama.
Disinilah sebuah seni baru yang kemudian saya tahu. Komunikasi memegang peran penting bahkan kunci utama untuk bisa saling memahami kebutuhan pasangan. Sediakan quality time untuk saling bicara semua hal yang terpendam dalam hati, bukan hanya keinginan, tapi juga ganjalan, dan berlapanglah untuk saling menerima masukan.
Menikah adalah tentang belajar yang tak berkesudahan, setiap moment, tak selalu bertemu dalam satu muara pemikiran. Menikah bukan hanya dua kepala yang berada dalam satu ruang yang sama, tapi juga dua keluarga besar, dua kebiasaan, juga dua budaya yang butuh penyesuaian untuk bisa saling pahami antar keduanya.
Meleburkan keduanya menjadi sebuah culture baru dari hasil akulturasi budaya yang dibawa suami dan istri tentunya butuh waktu, bukan suatu kondisi yang bisa dibentuk dalam hitungan waktu yang singkat.
Komunikasi yang intens dengan pendekatan hati adalah cara yang dibutuhkan untuk mencapai titik temu yang disebut dengan "mengerti dan memahami", hingga pada akhirnya, rumah tangga akan berjalan tanpa cedera.
::dari Indra, bocah ingusan yang sedang belajar dewasa berumah tangga
Read Post | komentar

Masalah Besar Itu Bernama Perbedaan Budaya

Wednesday, May 18, 2016

Masalah besar itu bernama perbedaan kultur leluhur. Oleh suatu ikatan dua sistem yang saling bertolak belakang harus berada dalam satu ruang baru yang belum memiliki tata aturan yang pasti sehingga keduanya saling bersikeras bahwa apa yang dibawa dari leluhurnya adalah yang terbaik, memandang sistem lain rendah dan tak layak untuk mengisi kekosongan sistem di ruang baru itu.
Kemudian aku menjadi tau, ini bukan hanya tentang dua manusia, lebih dari itu yang mencakup semua hal yang berkaitan dengannya akan dibawa, juga tentang sosok-sosok yang melingkari rekam jejak perjalanan hidup kedua manusia tersebut. Wajarlah jika sosok-sosok itu jauh lebih tepat untuk dimengerti, meski melukai seorang manusia satunya. Karena bagi sang tokoh, merekalah pahlawan hidupnya. Sementara manusia satunya? Siapa dia? Hanya manusia baru dengan segala keaku-annya yang juga mengagungkan sistem leluhurnya karena merasa lebih memiliki peradaban yang tertata.
Keduanya tak ada yang salah, waktu yang masih hitungan bulan amatlah singkat untuk bisa saling menghargai warisan leluhur masing-masing, karena keduanya baik dan benar versi kultur masing-masing.
Mencari titik temu adalah hal sulit dalam proses pencarian jalan terbaik, karena dua kultur yang dibawa saling membelakangi, berjalan pada lajur yang berlawanan, jauh semakin menjauh.
Mungkin, pada akhirnya ruang baru itu akan kosong tak berpenghuni, dua manusia penghuninya saling menjauh, pergi kembali pada sistem leluhur yang diyakini kebenarannya. Roboh, bersimbah noktah darah oleh goresan-gotesan luka penghuninya sebelum meninggalkan ruang baru itu.
Pergi berkendara luka dengan tetesan darah yang meninggalkan jejak, perih tak berkesudahan. Sepotong episode cerita baru selesai dengan dipercepat untuk memutus mata rantai perselisihan, agar luka tak lagi melukai.
Tangerang, 29 Juni 2016
Read Post | komentar

Allah Selalu Menjagamu

Wednesday, May 11, 2016

Sungguh, Allah begitu dekat ...
Perempuan bisa menjadi (lebih) tangguh dan berjuang sekuat tenaga mengalirkan energi positif dalam diri agar mampu survive dalam keadaan yang baik, ketika ia sedang sendirian dan selalu berlindung pada Sang Pemilik Ruh. Aku percaya itu!
Alarm tidak beres sudah aku rasakan sejak pagi. Seperti biasa, aku abaikan sebagai konsekuensi atas penolakanku ke klinik setiap suami pulang dari kantor dengan beragam alasan seperti anak TK yang malas mandi.
Qodarullah, kejadian tak terduga terjadi, saat sedang asyik dengan aliran air kran dan lele yang baru kubeli, tiba-tiba rasa tak nyaman itu semakin tak bisa berdamai dengan tubuhku, mengalir begitu cepat sampai tatapanku kabur, tangan sangat lemas dan kaki seperti kram.
Biasanya kalau sudah seperti itu langsung ambruk, tapi tadi benar-benar amazing, dalam kondisi yang seperti itu masih bisa berusaha cuci tangan dan pegangan tembok berjalan ke kamar sambil terus dzikir dan terbayang belum mempersiapkan perlengkapan samapta suami besok pagi, dua hal itu telah mengalirkan kekuatan dalam diriku. Baru kemudian benar-benar tidak bisa merasakan apa-apa, itupun hanya sesaat, kemudian rasa tak nyaman kembali menguasai seluruh tubuhku. Alhamdulillah, itu berarti Allah sudah membangunkanku.
Dalam hati terus berdoa, "Allah kuatkan indra, indra belum siapin perlengkapan samapta tarjo". Alhamdulillah dengan kekutan yang mulai ada bisa berjalan pegangan tembok ke dapur buat nyeduh teh dan mie cup untuk minum obat, meski akhirnya ambruk lagi di depan kulkas. (*koplak, bikin teh anget pakai air panas dan es dengan perbandingan 3:1, ini teori dudul indra yang sudah berlangsung sejak dulu, dan indra tipe orang yang sulit meninggalkan kebiasaan yang sudah terbentuk).
Aku seperti bermimpi hari ini, tapi sungguh ini bukti nyata bahwa Allah selalu ada didekatku, menjagaku dengan kesempurnaan penjagaan-Nya
Alhamdulillah, sore ini aku sudah kembali asyik dengan gadgetku, merekam jejak cerita pagi tadi melalui rangkaian tulisan sederhana, kemudian aku abadikan bersama deretan kisah lain di "kandang anak bebek", agar menjadi pelecut untuk kembali ke jalan lurus ketika langkah perjalanan hidupku mulai menyimpang dari lajur yang Allah Ridhoi.
Dan kamu, jangan pernah khawatir saat sedang sibuk di hanggar dan seluruh penghuninya, aku baik-baik saja karena Allah selalu didekatku dan menjagaku dengan kesempurnaan penjagaan 
Read Post | komentar

Pendidikan Tinggiku Untukmu

Tuesday, May 10, 2016

(Sebagian Besar) Seorang istri yang memutuskan untuk kuliah lagi akan mengerti, walaupun sebagian waktunya digunakan untuk pendidikan yang ditempuhnya, ia tetap bersemangat belajar menjadi ibu rumah tangga yang hebat dengan tetap mengoptimalkan waktunya diluar bangku kuliah untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri (dan ibu, bagi yang sudah memiliki buah hati), sehingga tidak akan ada perhatian dan kasih sayang yang tergadai meski sedikit waktunya terbagi.
Dan sungguh, pendidikan tinggi yang ia tempuh bukan agar lebih hebat dari suami, atau sarana show off agar terlihat luar biasa. Lebih karena ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga kecilnya dengan pendidikan tinggi yang ia dapatkan.
Dan pada akhirnya, semuanya kembali pada pilihan setiap perempuan, cukup dengan pendidikan saat ini atau melanjutkan pendidikan formal pasca menikah. Semuanya baik, semua benar, semuanya punya landasan kuat sebagai alasan atas pilihan-pilihannya, dan semua mereka lakukan sebagai bakti kepada keluarga kecilnya, dengan cara masing-masing yang tidak bisa disamaratakan antar keluarga yang satu dengan lainnya :)
::terima kasih selalu mensupport dan menjadi bagian penting atas pilihan-pilihan yang kuambil, bahagia dengan cerita kita::
Read Post | komentar
 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all