. Bingkai Memoar - Coretan Pena Anak Bebek .

Wednesday, October 20, 2010

Bingkai Memoar

Hambar, entah kemana pandangan ini tertuju. Apa yang terpikir, akupun tak mengerti.
Hujan nampaknya semakin deras saja, ku tatap lekat bulir-bulir bening yang jatuh berirama, mengalir di teritis kamar kost-ku.
Menatap bulir hujan, bukanlah aktivitas yang berarti, hanya sebuah kesia-siaan. Memberi peluang musuh abadi untuk jadi motor otakku. Tapi tak demikian pandanganku, hujan adalah bingkai memoar. Kala hujan, disini aku kembali memutar episode kisah lalu.
Memoar tentang dirinya kembali terangkai, bayangnya semakin tampak, mendekat dan memberi getar maha dahsyat.
Sejak perpisahan itu jarang ku jumpai sosoknya, seolah jauh terhempas bersama sang masa. Perjumpaan dengannya tak lebih dari 10 kali, selalu dalam latar hujan.
Satu-persatu penggalan episode bersamanya berjajar, membentuk prasasti-prasasti berukir sendu, perih.
Terlintas pesona parasnya, membawaku dalam pentas drama romantis, melakoni segala bentuk penghianatan, mendustai bidadari yang telah melahirkanku, kemudian menusukkan bisa mematikan. Tiba-tiba, tanpa jeda untuk sekedar kumenganalisa berbagai kejadian dalam pemahaman bijak, aku hanyalah robot mainan yang di pasang sebagai kelambu kedzoliman yang ia kemas secara rapi. Begitu cepat, tak ada waktu untukku berontak atau sekedar memekik penuh harap “Ayah, kenapa kau selalu ajak aku dalam setiap perselingkuhanmu? Sungguh aku tak rela hatimu tertaut untuk orang lain, hentikan semua ini !!!!”
Barang kali, aku merindu dirinya, atau sama sekali tidak. Kini aku telah mati rasa, benci tidak, mengharap sosoknya pun aku tak ingin. Biarkan ia berpaling, pergi jauh tak berjejak. Teddy biru, beruang pemberiannya menjadi saksi, akan sisa-sisa luka yang ia tautkan. Padanya aku bicara, bercakap tentang segala resah, tapi ia bisu, ia hanya boneka pemberiannya, bukan malaikat penawar lara atau penjelmaan sosoknya.

Semua telah berlalu. Aku coba untuk mengerti, pahami tiap-tiap goresan luka dan menerjemah dalam bahasa kerelaan. Terima segala keputusan, dan memaafkan tanpa ada belenggu keterpaksaan. Sama sekali tidak, aku tak mendendam,membencinya pun aku tak ingin.
Memang, tak ku pungkiri. Sakit itu sesekali kembali menyapa, merapuhkan kekuatanku dan runtuh bersama bendungan air mata yang tak tertahan. Lemah tak berdaya.
Sungguh, sejatinya aku telah rela, terima ketetapan tanpa keluh.
Aku tak tau, apa yang membawa luka-luka ini kembali hadir? Merusak segala sendi-sendi penerimaan takdir dan mengikis kepatuhanku pada-Nya, seolah menampakkan wajah pendurhaka dalam diri ini.
Inikah isyarat ketakrelaanku menapak takdir? Ohhh… tidak. Aku hanya butuh waktu untuk lebih dewasa menyikapinya. Sakitku adalah kewajaran, lantaran diri ini adalah insan biasa yang berbekal rasa, tapi ku tak ingin sakit ini merajai diri, hingga menggelincirkanku dalam lorong-lorong gelap, terjebak dalam perangkap muslihat musuh abadi dan berpijak pada kedzoliman. AKU TAK INGIN !!!! aku mendamba KESABARAN TAK BERBATAS dalam KERELAAN menjalani segala ketetapan.
Aku menunggunya di surga, duduk bersanding bersama untuk menyaksikan putaran drama yang terekam empat belas tahun lalu.
Ayah… aku tetap mencintaimu !!!!

Tak ku sadari jilbab ini telah basah, bukan karena air hujan yang masuk ke celah kusen kamar kost, bukan juga tangis pilu lantaran ketakrelaan, tapi tangisku adalah tangis syukur, Ia telah memmberiku hidayah hingga aku mampu pahami realita, karena ujiannya diri ini semakin tangguh untuk menapak hidup.
-Selesai-


(hujan sore-sore, penghujung semester 1. Di kamar kost lama)
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all