. Luka-Luka Malaikat Kecil - Coretan Pena Anak Bebek .

Wednesday, October 20, 2010

Luka-Luka Malaikat Kecil

Perjalanan Solo-Wonosobo cukup melelahkan, 6 jam duduk di bangku bus ekonomi serasa menyiksa, gerah dan panas, badanku pegal-pegal semua, benar-benar lelah.

Lelah itu adalah setitik pengorbanan untuk sekedar ungkap kerinduan, rindu pada sang belahan jiwa, cinta terindahku yang tertinggal di kota kecil Wonosobo.

“Assalamu’alaikum …” sapaku di depan pintu.
“Wa’alaikumsalam,” jawab anjar yang sedang sibuk membuat layang-layang,tanpa menoleh ke arahku.

“Kok sepi dhek?” tanyaku.

“Embah ke sawah, ibu gak tau kemana, dan mbak Rhena nonton TV,” jawab Anjar.

Aku masih mematung di depannya, Anjar yang dulu pertama kali ku tinggalkan masih berumur 4 tahun, sekarang sudah mulai gedhe, sudah bisa buat layang-layang sendiri, aku kagum padanya yang hidup selalu nrimo.

“Kok masih di situ Mbak?” Tanya Anjar.

“Pengen lihat Adek buat layang-layang,” jawabku singkat.

Kuperhatikan ia, tangan kurusnya dengan teliti mengikatkan benang dibambu, sambil sesekali menyaka keringat.

Buatku tambah sayang dan bangga !!!!!!!

“Lho Dhek, mata Kamu kenapa, kok kaya ada bercak darahnya gitu?” tanyaku kaget.

“Gak papa kok Mbak,” jawabnya datar.

“Lho, Mbak kapan datang? Itu Mbak, kemarin mata Anjar di tendang ibu gara-gara Anjar nakal,” Rhena yang sudah ada di belakangku memberi tanggapan.

Astaghfirullah, kenakalan apa lagi yang adikku lakukan hingga membuat ibu murka? Dia masih terlalu kecil, kenapa harus diperlakukan demikian? Bukankah sebuah kewajaran anak kecil bandel? Hati ini tersayat, ingin memekik berontak pada kenyataan tapi aku tak kuasa. Aku tak rela adikku diperlakukan demikian, dia jiwa tersakiti yang harus di sayang. Tapi kenapa mereka tak menyadari? Kenapa lagi-lagi kegilaan ayah yang jadi alasan tindak kekerasan terhadap adik-adikku? Bukankah mereka jauh lebih sakit? Bahkan trauma perceraian itu belum juga pudar dari bayangnya. Ah, orang dewasa memang kadang egois.

“Sakit Dhek?” tanyaku.

“Gak kok Mbak.”

Rabb. Aku benar-benar tak tega melihat bercak merah di mata Anjar, semakin menampakkan tekanan dalam hidupnya. Barang kali aku yang salah, aku yang terlalu sibuk dengan diriku tanpa peduli ada adik yang harus ku jaga, aku terlalu egois. Tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mungkin berani menentang ibu, aku juga tak ingin buat ibu tersinggung dengan teguranku. Sudah cukup sakit yang ayah buat ke mereka. Aku tak ingin menambah deretan luka pada ibu. Apa yang harus aku lakukan? Andai aku telah mapan, biarkan Rhena dan anjar bersamaku, dalam selimut cinta tanpa kekerasan, tapi aku sendiri masih mahasiswi yang bergantung hidup pada orang tua. Maafkan kakak, yang tak bisa memberi yang terbaik untukmu,sayang.

“mbak … hidup mbak enak, gak seperti kita yang selalu jadi pelampiasan ibu,” kata Rhena tiba-tiba.
Aku diam, tak berani menyahut. Aku sadari memang ini kenyataannya, hidupku terlalu kontras dengan mereka.

“gak adil !!!” rhena menambahkan.

“maaf dhek, mbak juga tak ingin kalian terus-menerus tersakiti, tapi mbak tak bisa berbuat apa-apa,”

“Mbak, aku dan Anjar kadang bandel itu sebenarnya adalah bentuk pemberontakan terhadap ibu dan ayah, karena kita pengen punya orang tua yang perhatian meski sudah cerai, tapi ibu gak pernah ngerti, yang ada kita selalu jadi pelampiasan,” keluh Rhena.

“Sabar ya Dhek, kita tak bisa menuntut takdir, kita harus terima kenyataan. Meski ibu seperti itu, mbak yakin sebenarnya ibu sayang kalian,” hiburku.

Rhena terisak, pilu.

“Rhen pengen bisa hidup penuh kasih sayang tanpa ada tekanan, seperti mbak,"

Tangisku meleleh, haru. Selama ini aku memang terlalu buta, mati rasa. Rabb… aku memang egois, seharusnya aku sedikit membagi waktu untuk sekedar pudarkan luka-luka meraka, sekedar dengar keluh dan duduk bersama dalam canda. Kenapa aku tak menyadari sedari dulu? Sudah terlambatkah kini? Luka-luka mereka sudah terlalu dalam, sedalam kekecewaan yang kutautkan dalam janji palsu yang tergetar oleh dua ujung bibirku enam tahun silam.

Sekali lagi ku tatap dua wajah malaikat kecilku, nanpak sendu namun sarat ketegaran, memberi materi kuliah baru dalam mata kuliah pembelajaran teori hidupku.

-Selesai-
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all