. Mbak Amah - Coretan Pena Anak Bebek .

Sunday, June 9, 2013

Mbak Amah

Pukul 20.35 WIB ketika aku tiba dirumah. Kulihat pagar besi tertutup rapat, mudah kuterka kalau sedang tidak ada orang dirumah. Hmm ... ada kecewa yang menyayat hati, pada pengharapan sambutan hangat yang tak terijabah.

Kutekan tombol bel dirumah, berharap ada yang membukakan pintu.

“Mbak Rhen ya?” tanya seseorang yang membukakan pintu.

Dia khadimat1 yang sudah 7 bulan ini membantu pekerjaan rumah tangga di keluargaku, tetapi karena sejak lulus kuliah aku baru pulang satu kali dan dia sedang libur kerja jadi kami belum pernah bertemu.

“Oh ... iya Mbak saya Rhen, kok rumah sepi lagi pada kemana?” tanyaku.

“lagi ke Semarang mbak, berangkat tadi habis ashar.”

Tak ada lagi percakapan, hening, dia begitu kikuk terhadapku, serasa ada sekat tebal antara kami, dia membantuku membawa barang masuk ke kamar, melayani segala kebutuhanku malam itu termasuk menyiapkan makan malam dan mengganti sprei tempat tidurku.

“gak usah Mbak, nanti Rhen tatain kamar sendiri aja.” Kataku ketika memergoki dia sedang merapikan sprei kamar.

“gak papa Mbak, sudah kewajiban saya sebagai seorang pembantu.” Jawabnya singkat.

“ah embak, jangan begitu ah.” Kataku sambil tersenyum.

Menusuk, dalam ...  begitu rendah hati dirinya memposisikan diri dihadapanku. Memang sekat itu terasa semakin tebal, nampak jelas perbedaan strata antara kami, bahkan ketika dia mememaniku menonton televisi dia duduk di lantai, tak mau aku minta untuk duduk di kasur bersamaku.

Allah adakah yang salah dengan sikapku sehingga malam ini terasa begitu dingin dan terbentang jarak antara kami? Aku tak ingin, bagiku pembantu hanya profesi, hanya pekerjaan, tak seharusnya itu menjadi hijab antara kami. Gumamku dalam hati.

*****

Pagi pukul 07.30 WIB aku baru saja keluar dari kamar setelah habis subuh tidur lagi karena masih terasa sangat lelah. Kulihat dirinya sedang mencuci pakaian secara manual padahal ada mesin cuci dirumah, lantai rumah sudah bersih dan wangi serta di meja makan sudah terhidang sarapan untukku.

“sudah bangun mbak?” tanyanya padaku.

“hehe ... iya. Capek banget sih mbak jadi tidur lagi.” Jawabku sambil garuk-garuk rambut.

“itu di meja sudah ada tumis kacang panjang sama ayam goreng, makan dulu mbak,” katanya.

“oh iya mbak, makasih ya mbak,” jawabku singkat langsung menuju ruang makan tanpa basa-basi menawari dia makan.

*****

“lho bu, kok asah-asah2 sendiri? Mbaknya belum datang lagi?” tanyaku sepulang dari kantor tempatku magang saat melihat ibu sedang cuci piring dan memasak untuk makan malam.

“mbak amah pamit berhenti Rhen, katanya disuruh bantu orang tuanya dirumah,” jawab ibuku sore itu, tepatnya setelah 3 hari aku berada di rumah.

“berarti gak kesini lagi bu?” tanyaku kaget.

“iya. Mulai sekarang biasakan mandiri ya, udah gak ada yang bantuin,” pinta ibu padaku.

Oh ... jadi namanya mbak amah ya. Ya ampun parah banget aku, sudah 3 hari dirumah tak sempat sekadar tanya namanya. Terlalu apatiskah aku? Atau karena merasa strataku lebih tinggi jadi tak perlu tau namanya? Tidak, bukan seperti itu. bukan ...

Tiba-tiba ada rasa bersalah yang menghujam, ada penyesalan tak sempat banyak bercakap dengannya bahkan seolah menganggap dia ada hanya saat aku butuh bantuan.

*****

Mbak amah ... betapa aku merunduk malu setelah tau kalau engkau seumuran denganku. Kita memang seumuran namun aku kalah jauh denganmu, aku banyak belajar dari jejak ceritamu selama membantu disini meski baru menyaksikan selama 2 hari. Tentang bagaimana cara mengerjakan pekerjaan rumah secara cekatan dan terarah, tentang bagaimana menjaga profesionalisme kerja saat atasan tak mengawasi, terbukti engkau tetap bersikap baik terhadapku saat orang tua tak berada di rumah.

Kini engkau tak disini, tak bisa lagi aku bangun tidur langsung makan, tak bisa tinggal minta tolong gantikan sprei dan selimut ketika aku tidur merasa gatal. Aku baru menyadari bahwa tak selamanya aku bisa bergantung pada orang lain untuk urusan hidupku.

Aku jadi merasakan betapa luar biasa jasamu untuk keluargaku, dalam pengabdianmu meringankan tanggung jawab kami sebagai pemilik rumah. Aku baru tau, kalau bersih-bersih rumah itu capek, aku baru tau kalau engkau keren bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dalam waktu yang singkat, tak sepertiku yang butuh waktu sampai menjelang dhuhur.

Maaf ... atas sikap kaku dan dinginku yang mungkin buatmu semakin tersudut dalam ruang kerendahan diri, yang tanpa kusadari telah membetuk sekat dalam komunikasi kita.

Hingga kemudian kepergianmu memberikan cermin untukku, tentang bagaimana aku belajar menghargai seseorang tanpa memandang strata soaial dan profesi, tentang bagaimana aku memaknai bahwa profesi bukan harga mutlak yang terpatok mati sebagai titik tolak penghargaan kita terhadap orang lain karena sejatinya profesi hanyalah sarana untuk menjemput riski, terlepas dari itu kita adalah mahluk yang berkedudukan sama.

Mbak amah ... engkau guru juga pahlawan tak tersirat.
-selesai-
Keterangan:
Khadimat: pembantu

Asah-asah: cuci piring
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all