. Dia, Dia, dan Dia ... Ibuku (part 1) - Coretan Pena Anak Bebek .

Wednesday, December 22, 2010

Dia, Dia, dan Dia ... Ibuku (part 1)

Kasih ibu,
Kepada beta,
Tak terhingga sepanjang masa,
Hanya memberi,
Tak harap kembali,
Bagai sang surya menyinari dunia …

Mbah dan ibu …

Wanita yang hebat. Sosok luar biasa. Dua wanita tangguh yang berjuang membesarkanku dan adik-adik dengan segala perjuangan dan pengorbanan.

Mbah … engkau adalah nenek terhebat, mengabaikan dirimu tuk prioritaskan kami, menjelmakan lelah dalam semangat untuk mencari nafkah, hanya untuk kami, agar kami tetap bisa bertahan hidup, agar kami tetap bisa hidup layak seperti teman-teman yang mempunyai bapak.

Ah ibu … Banyak kisah bersamamu yang masih tertoreh jelas dalam lobus parietalisku.

1996
Ibu yang selalu mengajakku untuk menjual kapulaga dan cengkeh ke kota kemudian membelikanku es krim, ibu yang selalu membiasakanku untuk memakai bahasa krama inggil pada siapapun, aku ingat sampai aku pernah mengatakan kaki sapi “samparan” gara-gara aku sama sekali tak mengenal bahasa ngoko dan waktu itu di tertawakan mbah. Ibu yang selalu mengantarku ke TK dan ibu yang selalu temaniku belajar mewarnai setiap malam, ibu yang selalu meyakinkanku untuk selalu jadi yang terbaik dan ibu yang mengerjakan pekerjaanku dalam lomba mewarnai ketika aku tak bisa mewarnai dengan spidol, ibu yang mengajariku memakai mukena saat akan lomba tingkat daerah, ibu yang mensupportku saat lomba menyusun huruf hijaiyah, ibu yang marah ketika aku tak bisa menyusun huruf-huruf hijaiyah itu secara berurutan, ibu yang selalu memotong poni dan kuku jemariku, ibu yang selalu memandikanku dan memakaikan seragam kuning hijau khas TK ABA.

1997
Aku mulai memasuki bangku SD. Gejolak-gejolak konflik semakin aku rasakan, ibu mulai transparan tentang kelakuan ayah. Kini ku mengerti, bahwa hidupku berbeda dengan teman-teman, aku hanya mempunyai IBU dan MBAH. Hanya mereka yang aku lihat setiap hari, mbah yang masih selalu ke sawah dan ladang, pulang menggendong kayu bakar untuk merebus air agar aku dan adik-adik bisa mandi air hangat dan ibu yang kini mulai membuat jajanan untuk di titipkan ke warung-warung di SD dan TK untuk menambah pendapatan keluarga, agar aku bisa menabung di sekolah. Pernah suatu sore, ketika aku meminta ibu untuk membuatkan telur dadar, ibu tak bisa karena harus membeli tepung kanji untuk membuat jajanan yang harus di jual. Aku menangis dan memaksa ibu untuk ikut, ibu tetap tak mengizinkan sampai akhirnya ketika ibu naik ojek aku berlari mengejar sampai 1 KM lebih, ibu tak marah dan pulangnya membuatkan aku telur dadar. Aku juga ingat, ibu pernah menampar mulutku dengan sisir karena aku tak mengizinkannya pergi bersama teman om yang menyukai ibu, ibu sering membohongiku agar bisa pergi dengan orang itu. sakitnya … tapi ia tetap ibu yang hebat. Karena didikannya hidupku penuh dengan keteraturan dan aku selalu mendapat prestasi tertinggi di kelas. terima kasih ibu …

1998-2001
Hanya bermula karena model talian rambut yang tidak sesuai dengan keinginanku, aku membuat ibu dan mbah bertengkar, akhirnya ibu pergi dan berencana jadi TKW, namun akhirnya bekerja di Jakarta dan kemudian pindah ke batam. Setengah tahun sekali ibu pulang, dan setiap ibu pulang aku selalu menangis, duduk di pangkuannya, menanyakan apa ibu pacaran di sana, apa ibu akan menikah lagi, meminta dibelikan ini itu dan seolah melarang ibu untuk kembali bekerja. Ibu juga selalu membelikan banyak mainan dan baju untuk kami bertiga, baju yang selalu kembar meski khusus buat dek Galih selalu mendapat baju dan mainan yang paling banyak dan dek Ayu selalu mendapat paling sedikit. Kasihan mbah, dengan usianya yang sudah setengah abad harus mengasuh 3 orang anak kecil yang sangat bandel dan suka bertengkar, disisi lain beliau juga harus mengelola sawah dan ladang sendirian, menggendong adikku yang waktu itu baru berumur 3,5 tahunan. Tak kubayangkan betapa capainya beliau, memasak, mencuci pakaian kami dengan menimba air sumur, memandikan kami, mengurusi sawah dan ladang, memanjat atap rumah ketika rumah bocor, tak jarang mbah juga sampai berhutang untuk biaya makan dan uang saku sekolahku. Tak seharusnya mbah menanggung beban seberat ini. Akhir kelas 4 SD ibu kembali dan memutuskan bekerja di wonosobo, sebagai staff PJTKI, tapi sayang pintu rizki tak selebar waktu ibu bekerja di batam, bahkan gaji ibu sering tak dibayarkan. Hidupku bisa dibilang serba kekurangan, aku sering mendengar mbah membicarakan hutang. Ya Rabb … gara-gara kami bertiga hidup mbah jadi menderita seperti ini.

2003

Aku mewakili daerah rayon untuk mengikuti lomba siswa teladan tingkat kecamatan. Senangnya, ibuku sendiri yang selalu menemaniku belajar setiap malam, ibu yang membuatkan ringkasan materi PPKN, IPA dan IPS, ibu yang mengajariku menari dan menyanyikan lagu ibu kita kartini dengan pianika, ibu yang meminjamkan pianika ke tempat mbak sepupuku saudara dari ayah, ibu juga menengok ke tempatku lomba untuk mensupport.

Oh iya … Tahun ini ada kejutan terindah dari ibu untukku, setelah menjual sawah ibu memutuskan bercerai secara hukum dengan bapak. Awalnya ku anggap biasa saja, toh sudah 6 tahun lebih ku tak mengenal sosok yang bernama bapak dan ibu juga sudah berjanji walaupun sudah bercerai tidak akan menikah lagi, ibu akan fokus mendidik kami.

Awal kelas 6 SD, aku mewakili kecamatan lomba mapel matematika tingkat kabupaten, ibu juga yang selalu menemaniku belajar, ibu yang selalu meyakinkan bahwa aku mampu bersaing meski dari desa, dan ibu menemaniku dari awal lomba sampai selesai, ibu selalu mengintip dari jendela ketika babak penyisihan, ibu selalu tersenyum dan meyakinkan bahwa aku bisa tiap aku menoleh ke arahnya, dan ibu tak marah ketika aku hanya mendapat juara harapan 2. Maafkan aku yang tak bisa membuatmu bangga, ibu … Dan aku ingat, sepulang dari lomba ibu mengajak aku silaturahim di rumah pakdhe Tri, kakak bapakku, ibu berhutang uang seratus ribu kepada beliau. Lagi-lagi hidup kami dipenuhi hutang.

Setelah ibu resmi bercerai dengan bapak, ketenanganku tak berlangsung lama … ibu kian dekat dengan orang yang sudah dekat dengan ibu sejak aku kelas dua SD, bahkan sekarang ibu jarang pulang, dan ku dengar dari omongan tetangga, ibu sudah menikah dengan orang itu. ya Rabb … kenapa aku harus kehilangan kedua orang tua? Kenapa hidupku tak bisa seperti teman-teman? Ibu semakin dingin terhadap kami bertiga, adik kecilku yang dulu anak emas kini mulai terabai, padahal ia baru memasuki kelas satu SD dan sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari ibu. Ibu hanya memberi uang saku mingguan padaku dan adikku. Tidak memberikan uang pada mbah. Jelas saja hutang mbah kian menumpuk. Tak bisa kubayangkan seperti apa rasanya berada di posisi mbah.

Inilah masa-masa tersulit dalam hidupku. masih sulit untuk memahami kenyataan bahwa ibu telah menikah lagi, pergi meninggalkan kita bertiga dalam kekurangan dan tahun ini adalah lebaran terpahit yang aku rasakan. Malam takbir, ibu belum juga datang. Tangis mulai meleleh dari sudut mataku. Hari itu mbah benar-benar tidak memegang uang, sementara adikku yang masih kelas satu meminta uang untuk saku takbiran di masjid, seingatku mbah jual beras untuk memberi uang saku pada adikku dan aku sendiri membuka celengan ayam yang ternyata hanya berisi uang seribu enam ratus rupiah. Pagi sepulang shalat idul fitri, kuharap ibu sudah ada di rumah tapi ternyata belum juga datang, kita berlebaran hanya berempat di rumah. Aku, dhek ayu, dhek galih dan mbah, lebaran tanpa senyum ceria, lebaran dengan lelehan air mata di sudut mata setiap menyaksikan teman-teman silaturahim bersama bapak dan ibunya, lebaran dengan baju baru ala kadarnya dan hanya memegang uang seribu rupiah dari hasil mbah menjual beras semalam. Lebaran yang paling berkesan dalam hidupku.

Ku akui, sejak ibu menikah lagi prestasiku di sekolah menurun meski masih menduduki posisi paling atas, betapa tidak. Anak kandung dari suami ibu satu kelas denganku, setiap hari aku di tindas, tas dimasukkan ke tong sampah, di lempari keset, di labrak dan kepalaku ditempeleng sudah menjadi sarapanku setiap pagi. Itu kurasakan selama satu tahun. Menderita, sering terpikir ini gara-gara ibu !!!

Aku semakin tidak betah tinggal bersama ibu, sering aku mengajak kedua adikku bermain ke hutan pemerintah bersama teman-teman, makan ucen dan buah makanan ular, mencuri singkong dan membakarnya, minum air kali dan dek Galih juga pernah terjatuh di lereng, ku lakukan semua itu sebagai upaya pemberontakan, aku juga jadi berani melawan ibu, pernah waktu itu aku mengatakan ibu binatang kaki empat karena aku sangat membencinya.

Keputusanku semakin bulat untuk ikut keluarga dari ayah, entah ikut siapa, eyang atau pakdhe tidak masalah yang penting aku jauh dari ibu.

Lulus kelas 6 SD, ibu memenuhi permintaanku untuk ikut keluarga ayah. Banyak yang mengatakan ibu sengaja membuang aku. tapi terserah apa kata orang, yang penting aku segera pergi dari tempat ibu, aku tak ingin satu sekolah dengan anak tiri ibu yang sangat jahat itu. Waktu itu ibu sangat sayang padaku, jauh-jauh hari sebelum pengumuman ujian ibu sudah mencari info SMP favorit di Wonosobo yang cocok denganku, ibu menemaniku belajar tiap malam agar aku lolos seleksi di SMP 1 Wonosobo, namun akhirnya aku memilih SMP 2 dan ibu tetap mendukung, setiap hari ibu memantau perkembangan penerimaan siswa baru di SMP2 Wonosobo, juga mencari tau info sekolah swasta di kota yang tergolong favorit sebagai cadangan jika aku tak diterima.

Alhamdulillah … aku diterima di SMP 2 Wonosobo, ibu langsung mencium dan memelukku. Hangat … pelukan yang sudah sangat lama tidak ku rasakan.

Sejak itu ibu menyerahkan pengasuhanku sepenuhnya di tempat Budhe, kakak ipar ayahku (istri pakdhe tri). Kikuk awalnya tak ikut orang tua sendiri, apalagi aku yang sejak setahun ini terbiasa hidup bebas dan tak ingin di atur. Tak betah? Pernah ku rasakan, serasa di buang orang tua? Sangat !!!

Awal ikut budhe aku sering pulang ke ibu, ibu kini telah kembali sayang dan perhatian denganku bahkan sudah tak berani memarahiku. Tapi yang ku dengar dari adik, ibu kini semakin dingin dengan mereka, apalagi sekarang ibu telah punya anak dengan suami barunya itu. kasihan adik-adikku.

Tak ku sangka, budhe adalah orang luar biasa. Hari kedua aku tinggal bersamanya, sebelum berangkat ke jogja, budhe pernah bilang, “panggil ibu juga boleh”. Dan ketika aku menemani beliau menyirami bunga, beliau juga bilang, ketika aku di tanya teman2 dimana rumahku, aku disuruh menjawab di bugangan, disini, di rumah beliau. Dan ketika ada tamu atau aku sedang menemani beliau belanja di pasar dan di tanya siapa aku, beliau selalu menjawab bahwa aku anak beliau. Ya Rabb … betapa beliau memuliakan aku sebagai anaknya.

Setiap budhe pulang kerja dan membeli jajan, aku selalu mendapat bagian seperti ketiga sepupuku, budhe selalu mengontrol sholatku, tak pernah lelah menyuruhku makan,menutup pintu kamarku ketika sebelum tidur aku lupa menutup, bahkan selalu mengingatkan ketika pukul 6 pagi aku belum mandi, budhe juga selalu mengingatkan agar aku sarapan pagi, setiap pagi, sebelum aku berangkat sekolah. Subhanallah … sedetail itu !!! budhe selalu memantau ngaji privatku dan les privat bahasa inggrisku, budhe tak pernah marah ketika aku salah, melainkan memberi penjelasan dimana letak kesalahanku, meski aku sering bandel. Budhe juga membiasakan aku untuk membantunya secara ringan, sangat ringan, hanya membuka dan menutup korden tiap hari, bikin teh tiap pagi, menyapu tiap minggu dan sesekali menyirami bunga. Tapi aku sering bandel, lebih memilih dikamar, memilih tidur daripada menyiram bunga, meski pekerjaan itu sangat sederhana. Satu semester tinggal bersama budhe, berat badanku naik tujuh kilo gram. Bisa dibayangkan betapa kurusnya aku sebelum tinggal bersama budhe.

Budhe yang tak pernah lelah mendidikku agar selalu berbakti pada bapak ibuku, seperti apapun kondisi mereka, budhe mengajariku mendoakan kedua orang tuaku agar diberi petunjuk oleh Allah, budhe yang selalu mengajariku untuk hidup nrimo, tidak egois. Budhe juga yang selalu membangunkanku untuk sahur saum senin kamis, membuatkan aku segelas energen, budhe yang selalu membuatkan bekal sekolah, dengan menu yang kreatif, tak dibedakan dengan sepupu-sepupuku bahkan bekalku selalu paling enak di sekolah.

Budhe juga yang mengarahkan aku untuk masuk SMK, agar masa depanku lebih terarah, agar jika nanti setelah lulus dan tak ada biaya, aku bisa bekerja dengan profesi yang lebih dibanding lulusan SMA, namun lagi-lagi aku tak mengindahkan kata-kata beliau. Ya Rabb … betapa aku terlalu sering melukai hati beliau !!!

Penghujung kelas tiga SMA,

Sore-sore, ketika aku menemani beliau membuka kelapa muda di dekat pintu menuju dapur belakang.

Beliau menanyakan mengenai keputusanku untuk melanjutkan kuliah, menanyakan apakah aku sudah mempertimbangkan dengan matang segala konsekuensinya termasuk masalah finansial dan resiko berhenti di tengah jalan, dan yang terakhir, beliau memohon maaf karena tak bisa membiayaiku kuliah beserta alasannya. Serasa air mata ini ingin mengalir deras, tapi ku coba untuk menahan. Begitu perhatiannya beliau terhadapku, tapi aku hanya mampu memberi balasan luka padanya …

Budhe … maafkan indra yang tak pernah mengindahkan nasehatmu. Baru sekarang kurasakan betapa besar pengorbananmu untukku.

Lulus SMA,

Alhamdulillah aku diterima di universitas negeri meski tak sesuai dengan keinginanku.

Hidupku kembali dibiayai ibu dan mbah, sempat kaget, terbiasa selalu “keturutan” mengenai biaya sekolah ketika masih ikut budhe, sekarang harus kembali menyaksikan susahnya mencari uang. Pertama masuk kuliah, ibu dan mbah pontang panting mencari hutang untuk biaya registrasi hingga akhirnya menjual motor yang baru dibeli sekitar 2 bulanan. Semester satu, aku sering dapat kiriman sangu dari uang hutang, semester 2 mbah jual sawah untuk menutup hutang dan untuk menyambung biaya kuliahku sampai selesai. Alhamdulillah sekarang sudah di penghujung semester 3 dan aku belum pernah sama sekali sampai kehabisan uang saku …

Subhanallah … Sungguh luar biasa ketiga wanita itu dalam hidupku …

Betapa besar peran mereka yang saling melengkapi sehingga aku bisa seperti sekarang, hidup wajar seperti teman-teman yang punya orang tua utuh.

Ibu kini memang bukanlah wanita cantik penuh kasih sayang seperti yang kukenal sepuluh tahun lalu, ibu lebih sering melukaiku dengan tutur katanya yang menusuk, tapi kutahu cinta ibu kini hadir dalam bentuk lain, yaitu pada besarnya perjuangan dan pengorbanan dalam kepeduliannya untuk pendidikanku.

Mbah … maafkan indra yang sering membentak.
Ibu, maafkan indra yang sering buatmu jengkel.
Budhe, maafkan indra yang sering melukai dengan mengabaikan nasehatmu.
Mbah, ibu, budhe … terima kasih untuk semua pengorbananmu.

dan aku yakin,
jika aku mampu mengadopsi aspek positif dari mbah, ibu dan budhe,
maka aku akan jadi muslimah luar biasa.


(Rabu malam, 22 Desember 2010 _refleksi hari ibu_)
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all