. GERD Mengalihkan Duniaku - Coretan Pena Anak Bebek .

Monday, March 4, 2013

GERD Mengalihkan Duniaku

Penghujung senja, bilik 1 instalasi rawat jalan paviliun garuda RSUP DR Kariadi. Kala pengharapan dan bayang ketakutan berakulturasi membentuk satu ilustrasi abstrak dalam ruang pikir yang tak mampu teterjemah oleh logikaku. diam, dalam penantian jawab terbaik atas segala keputusan, mengokohkan hati dan terus mengalirkan energy positif dalam diri.

gastroesophageal reflux disease (GERD), hal baru dan asing bagiku, yang kemudian aku harus segera mengakrabinya, berdamai dengannya dan tunduk pada alur permainannya, tak bisa melawan, tak mampu berontak. belajar menaklukkannya dengan cara yang tak bisa instan, tak cukup hanya terus berinteraksi dengan butiran permen, juga strategi pengendalian ruang pikir, lebih dari itu, aku harus bijak memetakan pengeluaran agar semua ruang kebutuhan terpenuhi.

menangis, tertunduk. diam, tanpa daya. berjalan perlahan menghadap cermin, jatuh tersungkur. menatap deretan kelalaian yang terpantul nyata. Adakah ruang untukku berbenah, memperbaiki jasad yang rusak dan menjaganya sebagai refleksi kecintaanku padaNya?

memahami, dahulu Dia telah menegurku, menyapaku lembut dengan sentuhan cintaNya. namun aku dungu, aku mati rasa, aku lalai hingga Dia menamparku. bukan, bukan untuk merobohkan, namun mengokohkan.

hingga tiba perjalananku pada Firmannya, “Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.At-Taghaabun:11)

belajar, belajar dan terus belajar. membuka ruang kesadaran tentang esensi hidup, tentang dimensi yang selama ini tak nampak oleh pengelihatanku. ketika pengabaian sebuah hal kecil menimbulkan suatu bencana dan pendzoliman pada diri, diantara sesal yang terus menghujam dan menyudutkan diri dalam bilik gelap jeruji terdakwa.

memulai, mengais kepingan yang terserak, menyatukan komponen yang terabai dan memahatnya dalam catatan aktivitas harian. kembali memaknai definisi keseimbangan, menata optimisme dan doa agar memberi ruang pada kesungguhan ikhtiar dalam diriku. kemudian mengkorelasikan ketiganya untuk mencapai satu muara, “kesembuhan dariNya”.

aku mencintai diriku, jasadku, karena aku mencintaiNya. biar kumemulai, meniti jalan dari titik terendah, bersama butiran permen, senandung doa dan optimisme. menderap hati dalam proteksi yang kokoh, hingga tak ada keluh, tanpa pekikan kesakitan.

bila ikhtiar dan doaku tak juga terijabah. aku tau, aku mengerti, bukan Dia tak mencintaiku, namun Dia sedang menempaku agar lebih tangguh, juga Dia masih ingin mendengar bisik lirih tangis munajahku untuk mencapai titik terdekat denganNya.


_copast dari diary dia, sebuah refleksi kecintaan yang sempat tertangguhkan_
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all