. Sebenarnya (selalu) Mencintaimu - Coretan Pena Anak Bebek .

Sunday, February 26, 2012

Sebenarnya (selalu) Mencintaimu

Sendiri,
Kembali mengingatnya, dalam kerinduanku.

Dia ...
Tak pernah banyak bicara, Juga tak banyak senyum,
Dalam diamnya, Aku juga belum mampu pahami.
Dia dan aku ...
Terikat oleh satu ikatan,
Kuat,
Karena aku dan dia satu darah.

Tapi aku dan dia sangat berbeda,
Kami terpisah sudah sejak 9 tahun lalu,
Ketika umurku belum genap 12 tahun.

Kami dibesarkan oleh lingkungan berbeda, sangat berlawanan.
Dia hidup dengan segala keterbatasan materi dan kasih sayang.
Dia tak mengenal apa itu perhatian,
Dia tak merasakan bagaimana hidup berkecukupan.

Ah ... tapi aku selalu iri dengan dia,
Aku selalu melihat dia lebih bahagia dariku.

Aku masih ingat, ketika aku masih SMP dan SMA dulu,
Aku selalu meminta barang-barang dia yang menurutku bagus,
Aku selalu membentak dan meremehkan dia,
Bahkan aku pernah meminjam uang tabungan dia, padahal itu uang saku dia yang dikumpulkan setiap hari untuk membayar study tour ke bali.

Aku iri,
Dia bisa bebas bermain, dia tak pernah dimarahi ketika nilai ujiannya jelek.

Sementara aku terpasung menjadi boneka, aku terkekang, aku tak bisa bebas bermain, hidupku penuh dengan aturan, hanya bisa keluar rumah ketika sekolah, pulang harus tepat waktu, istirahat hanya sebentar kemudian les ngaji dan les mapel. Aku tak punya waktu untuk sekedar menikmati masa remajaku.

dahulu ...
sering ada rindu yang tergetar,
sering kuciptakan imajinasi tertawa riang bersamanya,
duduk berdua merangkai memoar masa kecil,
tapi aku seolah tak mampu,
sayang ini,
cinta ini,
hanya ada dalam ruang mimpiku,
hanya tergetar di sudut-sudut hati,
tak pernah mampu kubuktikan dalam tindakanku.

Bodohnya aku,
Yang menutup telinga dan membekukan hati,
Buta oleh egoku.
Aku tak pernah tau kehidupan dia yang sesungguhnya.
Aku tak pernah tau betapa beratnya ujian yang ia hadapi.

Aku terlalu mendongak ke atas,
Melihat teman-temanku yang hidup bahagia dengan kedua orang tuanya yang utuh, sampai aku selalu merasa menderita.

Aku lupa, kalau kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku lupa kalau uang jajanku selalu lebih, aku lupa kalau aku bisa sekolah di sekolah favorit, aku lupa kalau aku tak perlu bingung kesulitan di sekolah karena aku les di bimbel. aku lupa kalau aku mendapat perhatian dari budhe. Aku terlalu banyak bermimpi ...

Dan AKU LUPA bahwa hidupku jauh lebih beruntung dari dia. Aku lupa untuk memikirkan dia, aku lupa untuk sekedar mendengar keluh kesahnya. Aku hanya bisa meremehkan dia ...

Dan pagi itu,
Ketika aku pulang kerumah ibu,
Aku membuka kamar dia.
Tak ada lagi baju yang menggantung,
Tak ada lagi wangi khas parfum dia,
Yang ada hanya sisa baju dia yang jelek,
Terlipat rapi dilemari kecilnya.
Dia telah pergi ...
Berjuang mencari nafkah, disaat aku masih menikmati bangku kuliah yang hanya tinggal menunggu kiriman ibu tiap bulan, tinggal minta ini itu tanpa memikirkan beratnya mencari uang.

dia ...
orang yang begitu tertutup,
tegar dalam diamnya.
sungguh aku tak sebanding dengan kelapangan hati yang ia miliki,

suatu pagi,
ketika pertama aku menelpon dia sejak pergi,
suaranya parau,
lirih,
lantaran sakit.
tapi dia tetaplah dia.
orang yang begitu kuat,
sosok yang tak ingin membebani.
tak ada keluh yang terucap,

sungguh aku tak tega,
aku tak sanggup mendengar keadaannya,
namun lagi-lagi aku hanya mampu diam,
aku tak mampu untuk sekedar ringankan beban dipundaknya.

betapa tak berharganya aku,
ada dalam ketakmampuanku,

maaf ... atas ketakmampuanku.
mencintaimu, sayang ....



(RPBI ramla, penghujung januari 2012)
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all