. Senandung Tepian Trotoar - Coretan Pena Anak Bebek .

Thursday, July 21, 2011

Senandung Tepian Trotoar




Belajar bersahaja, nrimo ing pandum lan ora kakehan polah. Memang hidup perlu menatap ke bawah. Sesekali menyapa tepian trotoar kota, atau duduk sejenak mendengarkan gemericik susunan tutup botol soft drink dalam genggaman tangan mungil nan lusuh yang selalu menunggu lampu menyala merah di perempatan jalan.

Mempesona, lebih syahdu dibanding konser band papan atas atau edcoustic sekalipun, jika kita menatap dari kacamata hikmah.

Entah kenapa, tiba-tiba memoar 27 Februari 2009 terangkai, mengisi cerita dalam lembar catatan kamis sore.

Awal perjuangan aku menapak di fakultas biru kampus unnes.pertama kali ke luar kota sendiri dengan bis ekonomi pula. Ku kira akan membosankan, perjalanan yang lama dan berisik oleh riuh pengamen yang turun naik bis. Tapi jauh di luar jangkauanku, kutemukan ibrah luar biasa, menanggalkan segala bentuk protesku terhadap takdir.

Bersandar di bangku bis, sesekali menatap hp, menunggu balasan SMS dari kakak yang akan menjemput di patung kuda. Tiba-tiba kudengar suara gitar, aku menoleh kearah suara itu. masyaAllah, anak kecil 9 tahunan, mengais nasi dengan mengamen. Selang beberapa menit kemudian, 2 anak 8 tahunan dan 5 tahunan terang-terangan mengemis di bis, hanya untuk sesuap nasi,sekeedar melanjutkan detak jantung dan menyambung nafas yang nyaris terhenti, melupakan segala keceriaan di bangku SD. Memendam dalam-dalam harapan mengenal teori aljabar atau hanya sekedar menghafal abjad.

Sempat bertanya dalam hati, “kemana orang tua mereka? Sungguh terlalu tega!”
Tapi pantaskah aku demikian? Apa hak aku menyalahkan orang tanpa mencari tau sebabnya.

“tunas-tunas kecambah itu terbuang, daun-daunnya penuh sayatan, terhempas dalam gundukan sampah, kemudian mencoba mengakrabi sampah sebagai media tanam, tak peduli lagi apa yang terbawa oleh xylem, mampu bertahan hidup dan tumbuh menjadi pohon meranggaspun sudah merupakan keberuntungan”

***

minggu pagi pukul 06.30 wib, 1 maret 2009. Sukun, depan agen bis nusantara.

Menunggu bis datang, lagi-lagi aku temui bocah berambut pirang itu, menenteng gitar.
Sepagi ini????
Kembali berjuang.

Astaghfirullahal’adzim … Rabb, sungguh aku malu ketika harus bercermin, aku kalah jauh darinya.

Perjalanan pulang semarang-wonosobo masih saja terbayang-bayang dirinya. –TUNAS YANG TERBUANG DI GUNDUKAN SAMPAH-

Begitu gigih, hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Sementara diri ini? Ucap syukurpun kadang terabai.
Memekik penuh tuntutan dan protes,
Hati terbutakan oleh ujian-ujian yang sejatinya tak sebanding dengan mereka, diri ini hanya menatap realita dari sedotan kecil, hingga yang nampak pemandangan di depan mata, secuil, dan tak menjangkau pelangi kehidupan. Hanya menipu angan dalam mimpi gila dan tak kenal syukur.

Dan baru saja kusaksikan, putaran drama kehidupan yang tak pernah tertangkap oleh pandangan mata, tak pernah terekam oleh lobus parietalis.

Kini kumengerti mengapa dua hari yang lalu tidak kebagian tiket nusantara menuju semarang, bukan karena Alah ingin menyiksaku, tidak! Tapi allah ingin menegur dengan penuh cinta, tanpa melukai tapi berbekas, meninggalkan goresan indah oleh pena kesadaranku sendiri. Goresan yang tak kan pudar meski kelak hidup menawarkan kemapanan.

Pantaskah kini bila diri ini berontak? Memekik keras mendamba ketakmungkinan?

Hanya jiwa-jiwa mati rasa.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.Ibrahim:7)


(kost an-najma. Kamis sore, 14 januari 2010.)
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all