. Dalam Pengharapan - Coretan Pena Anak Bebek .

Monday, March 5, 2012

Dalam Pengharapan

Tubuhku gemetar menunggu antrian pengambilan lembar hasil tes urine rutin dan hematologi di laboratorium klinik RSUP Dr.Kariadi. Ada bayang ketakutan yang menghantui diriku. Ya Allah ... Rhen takut untuk melihatnya, Rhen tak sanggup jika hasilnya tak sesuai dengan yang Rhen harapkan. Gumamku dalam hati.

“pak, setelah ini saya langsung masuk ke poli 158 atau bagaimana?” tanyaku kepada petugas ruang 5 di dalam laboratorium.

“tidak mbak, nanti mbak registrasi dulu di depan, sampaikan kepada petugas nama dokter yang kemarin menangani mbak, nanti biar petugas yang mengarahkan poli yang harus dimasuki,tapi ini sudah jam 12 lebih, sebaiknya besok rabu saja,” jawab petugas ruang 5 menjelaskan kepadaku.

“baiklah pak, terima kasih,” jawabku sambil tersenyum.

Aku melangkahkan kaki meninggalkan laboratorium klinik, masih dalam sisa gemetar, membuat kaki ini terasa berat untuk melangkah cepat. Kuputuskan duduk sebentar di bangku antrian pengambilan obat di apotik untuk melihat hasil tes yang tercatat dalam lembaran biru yang aku terima tadi.

MasyaAllah, hatiku berbinar, bias senyum memancar dari tempias titis air mukaku. Aku memang tak begitu faham deretan tulisan yang tertera dalam lembar biru itu, tapi setidaknya aku sering mendapat penjelasan dari dokter terkait hasil tes hematologi. Alhamdulillah, Hb-ku naik menjadi 12,5 gr %. Kondisi normal meski masih dekat dengan batas minimum. Sementara hasil tes yang lain aku tidak mengerti, apalagi hasil tes urine, aku sama sekali tak tau, terakhir tes ketika aku masih kelas 3 SMA dan itu nomal, jadi kali ini aku mengabaikannya. Aku tak peduli, yang aku tau Hb-ku sudah naik, itu berarti aku telah terbebas dari anemia.

“gimana Rhen?” tanya mbak ayu, teman serombel yang mengantarku.

“Alhamdulillah, Hb udah normal mbak,” jawabku riang.

***

Malam hari ba’da isya, badanku terasa begitu lemas, kepala sangat nyeri. Kupikir kelelahan akibat mengendarai motor ke RSUP Dr.kariadi dalam cuaca panas terik. Kuanggap biasa karena memang sejak november lalu aku sudah sering seperti ini, bukan sebuah ketakutan seperti ketika aku muntah ada bercak darahnya. Hal kecil, tak perlu kurisaukan, toh besok pagi aku kembali ke RSUP Dr.kariadi untuk mengetahui secara rinci hasil tes kemarin. Lebih baik sekarang aku istirahat, menyiapkan energi agar besok tak kelelahan, jam 1 aku ada kuliah, otomatis sepulang check up langsung meluncur ke kampus, tak ada jeda waktu untuk istirahat.

Hp-ku bergetar, 1 pesan masuk.

rhen, gimana hasilnya? Baik-baik aja kan? Sms dari Resty.

Alhamdulillah, HB udah normal jadi 12,5 gr %, kalau yang lain aku belum tau, gak mudeng hehe^^. Jawabku.

Ku letakkan hp di samping beruang biru pemberian ayah, ku rebahkan tubuh yang kian lemas dan kepala yang semakin ngilu. Berusaha memejamkan mata, namun terasa sulit. Sampai larut malam aku belum mampu tertidur. Ya Allah ... kenapa ini tubuhku? Bukankah kondisi ini tanda-tanda anemia? Tapi Hb-ku sudah normal. Apa karena tekanan darahku yang hanya 90/60? Tak mungkin juga, kata dokter kemarin siang itu tak jadi masalah karena memang tekanan darahku konsisten segitu. Lantas kenapa? Apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa sekarang mudah drop, bahkan sering pingsan dan kepala nyeri luar biasa serta nafas terasa dangkal? Adakah hubungannya dengan ulkus di lambungku? Atau paru-paruku juga bermasalah? Atau saraf ada masalah lagi gara-gara terlalu lama didepan laptop tanpa rajin menetes mata dan minum vitamin lagi? Tapi itu sudah sembuh sejak 7 bulan lalu! Banyak pertanyaan menghujam, namun aku juga tak mampu jawab. Aku tak tau.

***

Kamis pagi, pukul 08.37. aku sudah berada dalam deretan bangku antrian poli 158, duduk di depan ruang 12 bagian yang menangani hematologi, berpindah dari biasanya yaitu ruang 19 yang menangani gastrologi.

Cukup lama juga menunggu antrian. Hmm ... aku asyik memainkan screen Hp-ku untuk menghilangkan rasa jenuh, 10 menit, 20 menit, 25 menit namaku baru dipanggil. Aku menghadap dokter, duduk dan menyerahkan hasil tes laboratoriumku kemarin.

“ini dok, hasil tes Hematologi dan urine rutin yang direkomendasikan dokter dari ruang 19 kemarin selasa,” kataku dengan agak ketakutan, karena dokternya kurang ramah.

dokter menerima lembar biru itu, membacanya sekilas, memberi tanda lingkaran dan garis pada beberapa baris, dan diam sejenak.

“gejala-gejala apa saja yang anda rasakan selama ini?” tanya dokter.
Aku berusaha menjelaskan secara detail, termasuk kondisiku semalam.
“apa emosi anda juga labil?”
“hehehe, iya dok,” jawabku sambil nyungir, sok imut.
“habiskan obat yang kemarin, ini saya tambahkan beberapa vitamin dan steroid, kurangi aktivitas, jangan terlalu kelelahan.”
“baik dok,”jawabku singkat, tak berani banyak tanya lagi, melihat wajah beliau yang kurang ramah dan di luar masih banyak antrian.
“setelah ini masuk bagian urologi untuk analisis hasil tes urinenya.”
“iya dok, terima kasih,” jawabku sambil menunduk, tak berani menatap beliau.

Aku keluar meninggalkan ruang 12 dan menuju depan ruang urologi, meletakkan berkas dan kembali menunggu antrian, 20menitan aku menunggu baru namaku dipanggil masuk.

“sudah berapa lama mengeluh nyeri?” tanya dokter ramah.

Seperti biasa, aku menjelaskan secara detail mengenai keluhanku, termasuk pengobatan ulkus lambungku yang sudah berjalan 1 tahun ini tanpa diimbangi minum air putih yang banyak.

“vesica urinaria terinfeksi dan ada masalah pada ginjal karena terdapat kandungan protein dalam urine adik,” kata dokter sambil memberi tanda lingkaran pada lembar biru di berkas yang beliau baca.

aku diam, menunduk, mulai lesu. Berapa butir obat lagi yang harus aku minum? Sampai kapan tubuhku akan terus bermasalah seperti ini?

“berbahaya tidak itu dok? Tanyaku terbata, mataku mulai berkaca-kaca, takut. “ ini saya kasih beberapa obat untuk menyembuhkan, perbanyak air minum, kurangi makanan yang mengandung asam oksalat dan ciproflaxin yang kemarin dapat ini saya tambah, harus di habiskan,” kata dokter menjelaskan.

Aku mengangguk, menitikkan air mata.

Baru kemarin selasa aku mendapat banyak obat untuk mengobati lambungku, belum habis, belum sembuh betul, hari ini aku kembali mendapat butiran-butiran obat lagi, yang masih asing, aku tak tau apa itu steroid, aku tak tau kenapa dokter memberiku banyak vitamin, dan aku sangat syok mendengar ginjalku bermasalah, aku takut ya Allah, sangat takut. 7 tahun lalu ibu teman sekelasku meninggal karena gagal ginjal, 5 tahun lalu kakak kelasku di SMA meninggal karena gagal ginjal juga. Aku tak ingin ya Allah ... aku sangat takut. Akankah aku seperti mereka?

Tubuhku kian lemas, bersandar di deretan bangku antrian pengambilan obat di apotik, sendiri, dalam tangis yang tak juga berhenti, kian deras, meski hati berusaha kuat, tapi nihil.

***

Kujalani rutinitasku seperti biasa, dengan mengabaikan saran dokter kemarin. Sungguh, bukan karena aku tak peduli, tapi karena keadaan menuntutku demikian. Aku sudah semester akhir, sibuk menyiapkan Tugas Akhirku, harus bolak-balik ke kampus dan instansi yang aku gunakan untuk observasi, nyaris 2-3 hari sekali aku menempuh jarak 170an Km dengan sepeda motor, menembus dinginnya pagi dan sering juga harus menghadapi hujan ketika jarak yang kutempuh baru 50an Km.

Alhamdulillah, nyeri di lambung dan ginjal sudah tak terasa lagi. Aku anggap sudah sembuh. Namun kondisiku tak juga membaik, tubuhku semakin lemah, nyeri di kepala tak pernah hilang, sering nafasku terasa berat, kadang aku jatuh pingsan akibat kelelahan, bahkan tak kuat lagi bolak-balik naik motor. Lebih dari itu, aku kini tak mampu beraktivitas seharian penuh, baru setengah hari saja kepala terasa sangat nyeri dan tubuh lemah. Otomatis, proses tugas akhirku pun terganggu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar kost daripada ke kampus, memainkan keyboard laptop bersama kepalaku yang selalu nyeri dan tubuh lemahku.

2 kali aku check up ke dokter dekat kampus, beliau selalu menjelaskan bahwa aku hanya kelelahan dan hipotensi. Alhamdulillah, lega rasanya. Namun kian hari tak ada perubahan, aku mulai merasa takut, ku putuskan untuk kembali ke RSUP Dr.Kariadi, 11 hari dari hari terakhir aku datang.

***

Tak terasa bulir bening ini menitik, mengaliri muka sendu-ku, tatapan mataku hambar, menerawang pandangan yang tak tentu. Aku masih tak percaya, serasa baru bangun dari mimpi tidur siang. Berat, sangat berat! Ulkus di lambung-ku baru saja sembuh, baru 2 minggu lalu aku tertawa riang melihat Hb-ku sudah normal dan mendengar dokter menjelaskan kondisi tekanan darahku tidah bermasalah, baru saja aku merangkai mimpi menjalani kehidupan normal seperti teman-teman tanpa bergantung pada butiran-butiran omeprazole, ciproflaxin, vitamin b kompleks, mucosta dan inpepsa sucralfate. Baru saja 2 minggu lalu aku tersenyum indah dalam senandung syukur. Namun kini kembali redup, kian meredup, gelap ... masih teringat jelas percakapan dengan dokter di ruang 12 poli 158 RSUP Dr.Kariadi siang tadi.

“kenapa ya dok? Saya lihat Hb sudah normal, apa karena masih dekat batas minimum?” tanyaku setelah menjelaskan keadaanku selama ini.

dokter mengamati lembar biru hasil tes hematologiku 11 hari lalu, memberi garis dan kembali melingkari angka yang sudah dilingkari.

“lekosit dalam darah kamu rendah dik. Kondisi normal minimum 4.000/mmk,” jawab dokter sambil melingkari tulisan di lembar biru.

aku diam, nyungir, tak tau apa yang dokter sampaikan.

“itu kenapa dok?” tanyaku sambil menggigit jempol tangan kiri.

dokter menatapku, tenang dan ramah.

“ kamu kena leukopenia dik, suatu penyakit kekurangan sel darah putih”

hening, sejenak, aku hanya menunduk, aku tau sedikit tentang penyakit itu, karena pernah mendapat penjelasan dari guru biologi SMA sewaktu bimbingan persiapan olimpiade. Dokter menjelaskan banyak hal terkait leukopenia, faktor-faktor penyebabnya dan gejala-gejala yang timbul, beliau menekankan pada Neurasthenia dan anemia karena itu gejala yang paling nampak dalam diriku, beliau memberiku banyak anjuran terkait penanganan agar tidak semakin parah. Aku hanya diam, menunduk lesu, tak banyak tanya seperti biasanya, tak terasa air mata ini menitik.

“jangan takut dik, setiap penyakit pasti ada obatnya, steroid dan vitamin yang di kasih 11 hari lalu itu untuk mengaktifkan sumsum tulang belakang agar menghasilkan lebih banyak lekosit,” kata dokter menenangkan.
“tapi dok, setau saya leukopenia itu rentan kena penyakit kanker bahkan AIDS,” gumamku lirih.
“selama kamu rajin minum obat, tidak terlalu kelelahan, tidak banyak pikiran, itu gak akan terjadi, sudah jangan menangis ya,” jawab dokter sambil tersenyum menghiburku.

aku tak sanggup lagi membendung air mata, tangisku mengalir deras di ruang 12 poli 158.

***

Sudah 1 bulan lebih, aku kini mulai terbiasa. Tak lagi takut, tak lagi bermimpi dipanggil izroil dalam tidurku. Aku yakin, allah punya rencana indah dalam ujian ini. Barang kali, aku tak akan sadar, betapa penting menjaga kesehatan dan pola hidup. Mungkin aku tak akan pernah mau tau, bahwa terlalu membebani diri dengan pikiran berat akan mengganggu kesehatan dan berakibat fatal.

Aku banyak belajar dari keadaan ini, tentang bagaimana mengelola keseimbangan dalam diri, tentang pemenuhan hak yang harus selaras, tanpa ada sisi yang tearabai, tanpa menyepelekan hal-hal yang dianggap kecil dan tak penting.

Aku tau, aktivitasku kini tak bisa seperti dahulu, aku mungkin belum mampu lagi menikmati indahnya pemandangan di desa lamuk seperti setiap perjalanan pulangku dengan sepeda motor, aku belum bisa seperti teman-teman dengan beraktivitas penuh seharian, aku juga sangat sadar keadaan ini sangat mengganggu tugas akhirku.

Tapi aku yakin, Allah punya rencana indah dalam semua ini, Allah punya hadiah yang Ia persiapkan jika aku mampu menghadapi tantangan ini, bukankah “setiap penyakit itu pasti ada obatnya, jika tepat obatnya, maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah SWT. (HR. Muslim) dan Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS.Al-Ankabut:2)”.

Jangan takut, jangan sedih, jangan menyerah, jangan menyerah,

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu ... (QS. al-Hadid: 22-23)


(Semarang, 05 maret 2012. Meniti bingkai muhasabah dalam alunan sepi. Didedikasikan untuk dirinya yang saat ini sedang berjuang melawan leukopenia)
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all