. Dia, (juga) Ibuku - Coretan Pena Anak Bebek .

Sunday, December 22, 2013

Dia, (juga) Ibuku

Hujan penghujung sore di ujung Bekasi, dalam hati yang tak biasa, pada pengharapan yang hancur luluh lantak oleh kegagalan. Ya ... aku gagal di seleksi tahap akhir CPNS BKN tahun ini. Sakit ... namun bukan lantaran aku ingkari takdir, tak juga menuntut Allah untuk sesuai dengan inginku, hanya saja ... aku merasa gagal membahagiakan seseorang.

Aku hanya tertunduk lemah di lantai kamar, menyandarkan kepala di pinggir tempat tidur dan memeluk erat beruang biru, sesekali menyeka bulir bening yang terus mengaliri mukaku, membasahi kerudung merah marun yang belum juga aku lepas sejak pulang ujian wawancara, membiarkannya terus melekat tanpa peduli basah kuyup oleh hujan dalam perjalanan pulang tadi. Masih nampak jelas wajah seseorang paruh baya itu dalam pertemuan terakhir kami dengan tatapannya yang penuh pengharapan akan kesuksesanku, dan kemudian semua rekaman memoar pertaruhan hidupnya untuk hidupku terus berputar layaknya lakon sandiwara panggung.

                                                                            ***

Pinggiran Wonosobo, 1998.
Setiap pagi aku dan kedua adikku mandi bersama, secara bergantian simbah yang menyabuni kami dan menyiapkan pasta gigi. Aku sudah kelas 3 SD, tapi belum juga mandiri, apa-apa masih bergantung pada simbah. Bukan hanya urusan mandi, seragamku juga masih dipakaikan, setelah seragam rapi baru aku mau sarapan sendiri, itu juga nasi dan telur dadar sudah di piring, dan simbah pula yang selalu mengecek perlengkapan sekolahku sebelum berangkat agar tak ada yang tertinggal.

Simbah menjalani peran sebagai seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga secara seimbang, Selepas aku dan dek Dhena berangkat sekolah, simbah pergi ke sawah dengan sudah menyiapkan makan siang dan pakaian ganti untuk kami. Biasanya, kalau pekerjaan di sawah/ladang sedang tidak berat, simbah selalu membawa dek Anjar, tetapi kalau sedang musim tanam atau musim panen dek Anjar dititipkan pada om. Simbah sendiri pula yang memperbaiki genteng apabila atap rumah bocor, semua pekerjaan nyaris simbah lakukan sendiri untuk meminimalisir pengeluaran agar uang bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan kami.

Yang aku tau, simbah adalah wanita paling hebat, beliau berjuang sendiri membesarkan kami, dengan jerih payah tangan kasarnya, kami bisa bertahan hidup, menjalani hidup layaknya teman-teman kami yang hidup bersama kedua orang tuanya, bahkan kami selalu mendapatkan lebih baik dalam hal apapun dibandingkan teman-teman seusia kami.

Simbah hanya petani kecil, sawah dan ladangnya tak terlalu banyak, tapi simbah tak pernah membiarkan hidup kami kekurangan, simbah selalu bekerja keras agar hasil panen cukup untuk menafkahi kami.
                                                                               ***
Rabu pagi, saat aku duduk di kelas 4, jam istirahat sekolah, seperti biasa, aku dan teman-teman jajan di warung dekat sekolah.

“Rhen, Rhen simbah kamu jatuh,” teriak tetanggaku dari kejauhan.

“Simbaaaahh,” aku langsung menangis keras. Aku selalu ketakutan setiap terjadi apa-apa dengan simbah, aku takut, sangat takut, karena hanya simbah yang ada di sisiku.

“Sudah, jangan nangis, sekarang simbah kamu sudah dirumah, pulanglah.” Teriaknya lagi.

Aku segera berlari pulang, menyaksikan beberapa tetangga dirumah, dan simbah sedang terbaring tak berdaya di tempat tidur sederhananya. Lututnya luka parah, kulitnya mengelupas sampai daging kelihatan, juga luka di siku. Tapi simbah tetaplah simbah, beliau tetap tak mau dibawa berobat dengan alasan uangnya lebih baik untuk jajan aku dan kedua adikku.

Dengan keadaan sulit berjalan, simbah tetap melakukan tanggung jawabnya merawat kami, tak kubayangkan betapa beliau luar biasa hebat menahan sakit saat melipat lututnya untuk mencuci baju kami, juga berjalan jauh untuk mengirim makanan kepada pekerja di sawah yang sedang mempersiapkan tanam padi.
Hingga beberapa hari setelah simbah jatuh, diruang tengah, saat Dhena dan Anjar sudah tertidur, simbah mengajakku mengobrol.

“Rhen, simbah jatuh karena pikiran simbah lagi kosong, khawatir sama Anjar yang pagi itu sangat rewel dan gak mau ditinggal, juga terus mikirin kalian yang setiap hari berantem dan susah diatur.” Kata simbah tiba-tiba.

“Maaf Mbah, karena kami hidup Simbah jadi susah,” jawabku datar.

“Kamu paling besar, belajarlah ngemong adik-adikmu, sedikit ngalah, jangan mau menang sendiri terus. Simbah nggak pernah minta kamu buat membantu pekerjaan apa-apa, kalian tidak bertengkar saja simbah sudah sangat bahagia. Percuma pinter di sekolah kalau sikapmu masih saja keras dan egois.”kata simbah melanjutkan.

“Ah simbah selalu gitu, kenapa selalu Rhen yang dimarahin? Padahal kan adek pada nyebelin, makanya Rhen sebel sama mereka.” Aku menimpali dengan nada suaraku mulai meninggi.

“Simbah gak marah nak, hanya menasehati agar sifat buruk kamu gak keterusan sampai dewasa nanti, kamu anak paling besar, harus kasih contoh yang baik buat adik-adik kamu, kelak kalau kalian dewasa siapa lagi yang bisa bantu kamu saat sulit kalau bukan adik-adik kamu.” Simbah menjelaskan.

“Ya deh iya, Rhen mau ngalah sama dek Dhena dan dek Anjar, tapi simbah juga nasehatin mereka donk biar nggak nyebelin jangan cuma Rhen terus yang disalahin.” Jawabku ketus.

Simbah berkata seperti itu karena aku memang keterlaluan, aku tak pernah bisa mengalah dengan adik-adikku, dan hal itu adalah penyebab utama dalam setiap pertengkaranku dengan kedua adikku.

                                                                                 ***

Simbah, betapa luar biasa perjuangannya untuk kami, selalu saja tak pernah memperhatikan dirinya bahkan nyawa menjadi taruhan demi mempertahankan keberlangsungan hidup kami. Selang beberapa bulan sejak simbah jatuh, dalam sebuah malam simbah bercerita padaku kalau beberapa hari lalu beliau terpeleset di pinggir tebing dan nyaris jatuh ke jurang saat beliau menggendong kayu kopi untuk rambatan tanaman buncis. Beliau kesulitan untuk bangun karena sangat sakit, tapi dengan semangat luar biasa beliau paksakan bangun dan melanjutkan perjalanan menggendong kayu kopi kesawah.  Beliau nekat melewati jalan terjal dan berbahaya agar hemat waktu dan tak mau menyuruh pekerja lagi-lagi dengan alasan lebih baik uangnya untuk jajan aku dan kedua adikku. Kata simbah, “Gusti Allah sangat sayang kalian, makanya simbah diselamatkan.”

Tak kubayangkan jika Allah memanggil simbah dalam peristiwa itu, apa jadinya nasibku dan kedua adikku. Terima kasih Allah, Engkau menjaganya, engkau berikan ia kesempatan hidup lebih lama dalam setiap musibah yang nyaris mempertemukannya dengan maut.

Sebenarnya, pendapatan simbah dari bertani amatlah tidak cukup untuk mencukupi kehidupan kami, apalagi dengan kebiasaan hidupku sejak kecil yang maunya selalu mewah. Tapi simbah tak pernah membiarkan hidup kami kekurangan, yang kadang aku temukan, simbah berhutang agar kami tetap bisa makan makanan bergizi, atau sekadar untuk memenuhi permintaanku yang selalu minta kebutuhan sekolah yang serba branded1.

Seperti putaran roda, hidup kadang berada dalam titik terbawah. Ramadhan 2002 adalah kondisi terburuk keuangan simbah selama mengasuh kami, pendapatan simbah tak menentu, hutang untuk mencukupi kebutuhan hidup cukup banyak, kami berbuka puasa dan sahur seadanya, bahkan untuk kudapan lebaran simbah membuat seadanya dengan uang hutang juga. Malam takbiran Idul Fitri 2002 simbah sama sekali tidak memiliki uang, dek Anjar yang waktu itu sudah berusia 6 tahun menangis minta uang saku untuk jajan saat takbiran. Entah, aku tak tau apa yang simbah rasakan saat itu, yang aku tau simbah cepat-cepat menakar beras dan keluar rumah, sesaat kemudian kembali dan memberi dek Anjar uang seribu rupiah, sementara aku berinisiatif membuka celengan yang ternyata isinya hanya Rp.1800,-.

Lebaran hari pertama aku memarahi simbah, aku menangis penuh emosi dan kesakitan yang tak tertahan, aku marah, aku benci kenapa lebaranku tak seperti teman-teman yang punya baju bagus dan bersama orang tua mereka. Aku protes, kenapa hidup terus menderita. Aku berontak kenapa simbah membiarkan ibu menambah kesakitan dengan meninggalkan kami bersama suami barunya padahal luka kami karena ayah belum juga pulih. Dan simbah bilang, “jangan sedih, ada simbah yang selalu jagain kalian, apapun akan simbah lakukan untuk membahagiakan kalian.”

                                                                              ***

Tengah 2003 aku harus berpisah dengan simbah karena aku memilih melanjutkan sekolah di SMP kota dan harus tinggal bersama pakdhe dari ayahku. Semua biaya hidupku ditanggung pakdhe, tapi simbah tetap memberiku uang saku tambahan, agar aku bisa hidup seperti teman-teman di kota.

Awal 2009, ketika aku sering jatuh sakit karena tekanan pikiran akibat terancam tidak bisa melanjutkan kuliah, lagi-lagi simbah yang menjadi pahlawanku, dengan besar hati beliau menjual sawah untuk biaya kuliahku.

Simbah berjuang semakin keras untuk menafkahi kami karena sejak masuk kuliah aku kembali tinggal bersama simbahku. Sawah simbah sekarang sudah berkurang, sementara pengeluaran bertambah banyak, aku kuliah di Semarang, dek Dhena kelas XI di SMK swasta dan dek Anjar kelas VIII SMP, semua biaya simbah yang menanggung, sendirian. Uang hasil penjualan sawah hanya cukup menopang biaya kuliahku sampai semester 4, sisa biaya sampai aku semester 6 simbah berjuang keras dengan menanam sayuran dan cabai di sawah.

Setiap hari simbah berangkat ke sawah pagi-pagi, pulang hanya ketika waktu sholat kemudian kembali lagi ke sawah dan pulang menjelang maghrib, mengabaikan hujan ataupun panas terik, bagi simbah yang penting hasil panen melimpah dan bisa untuk membiayai hidupku dan kedua adikku. Simbah selalu melakukan semua pekerjaan disawah sendirian dengan alasan masih sama seperti dulu, lebih baik uangnya untuk aku dan adik-adik daripada untuk membayar pekerja.

Simbah, betapa luar biasa pengorbanannya untukku dan kedua adikku. Aku tau, sejatinya tubuh simbah lelah, sejatinya simbah juga menginginkan hidup layaknya orang seusianya yang tinggal menikmati masa tua tanpa harus bekerja keras, namun simbah mengabaikan semua itu, simbah mengabdikan segenap hidupnya untuk kami, agar kami tak terpasung dalam nestapa, agar kami bisa hidup layak, agar kami menjadi manusia bahagia yang berpendidikan tinggi.

Simbah juga muslimah sholihah yang selalu membangunkanku untuk sahur, menyiapkan menu sahur untukku, menemaniku sampai aku selesai makan dan mengingatkanku untuk qiyamul lail. Beliau selalu membangunkanku dengan lembut saat adzan subuh aku belum terbangun, juga mengingatkan ketika setiap adzan berkumandang aku tak segera bergegas mengambil air wudhu. Beliau tak pernah bosan menegurku ketika ba’da magrib aku lebih asyik dengan laptopku dibanding untuk tilawah.

Betapa cintanya luar biasa dalam jejak perjalanan hidupku, bahkan menjadi sangat luar biasa ketika awal 2013 aku 2 kali opname dalam 1 bulan dan harus sering rawat jalan di rumah sakit, beliau yang selalu membuatkan bubur untukku, memasakkan makanan sehat tanpa MSG dan sedikit garam, menemaniku terjaga ketika tengah malam aku meringkuk kesakitan, tetap membangunkan qiyamul lail dengan lembut, terus mengingatkanku untuk ikhlas dan berpasrah pada Allah serta mengajariku agar lebih bisa memahami hidup.

Dan pertemuan terakhir 1 september 2013, simbah sedang sakit. Lambungnya bermasalah. Aku tau, sangat tau. Simbah sakit karena sering terlambat makan, karena setiap pagi buta sudah berangkat ke sawah tanpa membawa bekal makan. Tubuh simbah sangat kurus. Aku tau bahwa tubuhnya sangat kurang asupan gizi, setiap hari simbah hanya makan dengan sambal dan sedikit ikan asin, beliau tak pernah mengambil lauk yang ada di meja makan dengan selalu bilang, “lauknya buat makan kalian aja.”

Gerimis minggu sore, di tepi jalan desa, kupeluk erat simbah, seolah tak ingin melepas, seolah itu pertemuan terakhir, kucium simbah tanpa henti, bulir bening yang menggenang sedari tadi runtuh, mengaliri muka pucatku.

“Simbah baik-baik yah disini, kalau ada apa-apa kabarin Rhen, maaf Rhen gak bisa tinggal disini untuk temani simbah. Doakan Rhen sukses Mbah, biar bisa membahagiakan simbah, biar simbah bisa merasakan hasil dari jerih payah simbah selama ini.” Ku lepas pelukanku, memegang erat tangan simbah yang sama dinginnya dengan tanganku, menunggu dek Anjar yang masih di warung untuk mengisi bensin.

“Kamu hati-hati nak, jangan telat makan, jaga kesehatan, atine sing semeleh2, gak usah banyak pikiran, simbah selalu doakan kamu sukses.” Kata simbah sambil berkaca-kaca.

“Iya Mbah, Rhen pasti baik-baik aja.”

Kembali kupeluk simbah sebelum aku benar-benar meninggalkannya.

”Nang, naik motornya pelan aja, biar mbakmu gak tambah sakit, jagain mbakmu ya, ati-ati dijalan.” Kata simbah pada dek Anjar sebelum kami berangkat.

Ah simbah, tetap saja tak berubah, masih saja sangat perhatian meski beliau sendiri sedang sakit.

                                                                      ***

Getar handphone sadarkan lamunanku. Tak terasa sudah sangat lama aku terjebak dalam lamunan, masih dengan bulir air mata yang menitik, semakin membasahi kerudung merah marunku. 1 panggilan masuk, dek Anjar.

“Assalamu’alaykum, apa dek? Tumben telpon.” Sapaku.

“Ih GR banget si embak, ini simbah yang suruh, simbah mau bicara nih.” Kata Anjar.

Deg, degub jantungku semakin cepat. Simbah ... apa yang harus Rhen sampaikan.

“Assalamu’alaykum, gimana Rhen? Lolos lagi kan” suara lembutnya seolah penuh harap.

“Maaf ... Rhen gagal,” suaraku tersekat, berat lidah ini untuk melanjutkan bicara, bulir-bulir bening semakin membanjiri mukaku.

“Jangan nangis Nak, jangan nangis, nggak papa. Kamu sudah berusaha keras, tahun depan bisa mencoba lagi.” Kata simbah menenangkanku.

“Maaf, Rhen gagal bahagiakan simbah, maaf,” aku semakin terisak, bulir air mata mengalir deras tak terkendali.

“Nak, dengarkan simbah. Kamu nggak gagal, hanya saja ini belum rejeki kamu, kamu yakin kan dengan kuasa Allah? Jangan menangis lagi, Allah pasti kasih pekerjaan yang tepat buat kamu, di waktu yang tepat.”

“Tapi, Rhen udah kecewain simbah, Rhen nggak bisa bahagiakan simbah, maafkan Rhen.”

“Enggak nak, enggak. Kamu menjadi seperti sekarang sudah buat simbah sangat bahagia, simbah selalu bangga sama kamu, jangan terus salahkan diri sendiri, besok kamu pasti sukses dan bisa mendapat apa yang kamu impikan, sudah, jangan menangis.”

Diam, membisu. Larut dalam lantunan doa simbah, alunkan simfoni kedamaian dalam riuh gaduh gemuruh hati, membisik bertutur, “terima kasih atas anugerah sosok luar biasa dalam hidupku, yang bukan saja mempertaruhkan hidupnya untuk hidupku, namun juga mendekap erat hatiku kala meringkuk kedinginan oleh beratnya tantangan. Simbah telah melakoni peran sebagai ibu untukku secara apik3. Ya ... Dia (juga) Ibuku!”


Catatan:
branded1: bermerek
atine sing semeleh2: hatinya yang lapang
apik3: bagus
Share on :

2 komentar:

untsa fahmi addiin said...

keren

anto said...

Selalu terharu dengan kisah perjuangan seperti kalian. Semoga menjadi lecutan u/ terus meraih sukses. Semoga sukses barokah. Aamiiinn

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all