. Aku, Diriku ... Indra - Coretan Pena Anak Bebek .

Sunday, January 5, 2014

Aku, Diriku ... Indra

“Tidak, Indra tidak mendendam. Hanya saja Indra enggan berinteraksi dengan orang-orang yang sudah menyakiti hati Indra.” Sanggahku saat tante menanyakan alasanku tak pernah mau datang ke Desa tempat tinggalku semasa kecil.

“yah Ndra, kalau itu namanya masih dendam.” Tante kembali mengingatkan.

“Indra hanya tidak ingin kesakitan yang ke sekian kalinya, juga tak ingin menyakiti orang yang dulu sudah menyakiti hati Indra. Itu saja.” Gumamku lirih.

~memoar 31 Agustus 2013~

*****

Aku, diriku ... Indra. Manusia biasa, dengan segenap alpha. Manusia biasa yang belum mampu mengelola gejolak hati dengan bijak.

Aku, diriku ... Indra. Sosok yang lebih asyik dengan dunianya sendiri, mudah terluka dan kemudian enggan kembali berurusan dengan individu-individu yang pernah melukainya.

Aku, diriku ... Indra. Manusia egois, yang hanya melihat suatu obyek dari sudut pandang dirinya, seolah mengabaikan luka-luka hati orang lain atas keangkuhan dirinya.

Aku, diriku ... Indra. Pemilik wajah sendu yang sulit tersenyum.

Aku, diriku ... Indra. Sosok yang terlalu sulit membuka diri di lingkungan baru, mulutku terkunci rapat sehingga sulit bersuara untuk membuka komunikasi dengan orang yang baru aku kenal, aku hanya jago sosmed, hanya berani berkomunikasi lewat tulisan.

Aku, diriku ... Indra. Sosok yang terlalu takut kehilangan orang-orang didekatnya, aku begitu membelenggu orang-orang yang sudah di dekatku, tak pernah membiarkannya terlepas tanpa peduli apa yang ia rasakan selama didekatku.

Iya ... mungkin aku idiot. Kepribadianku tumbuh lambat. kedewasaanku jauh jauh jauh dibawah standar orang seusiaku. Aku cengeng, mudah tumbang kala aku gagal menghadapi tantangan didepanku. Dan kemudian menjadi layaknya orang gila ketika harus kehilangan orang-orang didekatku.

Maaf ... maaf untuk diri yang penuh alpha, untuk diri yang gagal menjadi manusia seutuhnya, untuk diri yang menjadi budak keangkuhan dan egoisme diri.

Sungguh ... sungguh aku terus belajar, bukan diam terpasung dalam wajah suram penuh dosa yang menjijikan.

Aku belajar, bagaimana aku memulai membuka diri. Aku belajar, bagaimana mendahului menyapa orang yang baru aku kenal, aku terus belajar meski aku belum berhasil menjadi layaknya orang pada umumnya.

Iya, aku memang masih kesakitan atas luka-luka masa kecilku. Tapi aku juga terus belajar, belajar bagaimana memaafkan masa lalu dan menjadikannya proteksi untuk hidupku. Meski aku gagal, meski proteksiku terlalu berlebihan sehingga aku terlalu sulit membuka diri, namun aku tak pernah menyerah, aku terus berusaha memperbaiki. Maaf ... atas luka yang aku torehkan.

Maaf ... jika aku hanya melihat sesuatu dari sudut pandangku, sehingga aku buta dan tuli. Maaf .. lagi-lagi itu karena proteksiku yang berlebihan terhadap diriku, karena aku menginginkan kenyamanan sampai aku lupa bahwa orang lain juga memiliki hati, seperti diriku. Maaf ... aku salah. Namun aku terus belajar, belajar dan belajar memperbaiki, meski belum juga berhasil.

Maaf, jika aku terlalu sulit tersenyum. Entah ... bukan aku sengaja melukai hati hati kalian. Ijinkan aku belajar memperbaiki, ijinkan aku untuk memulai, meski telah terlambat, biar ... biar aku belajar layaknya bayi yang baru mengenal hidup.

Maaf ... jika aku bukan pendengar yang baik. Bukan aku tak peduli, hanya saja kadang aku tak mampu memetakan obyek pikiran dengan baik sehingga campur aduk layaknya lelehan es krim wall’s selection.

Maaf ... jika aku selalu menuntut untuk dimengerti tanpa mau mengerti. Maaf ... atas diri ini yang begitu angkuh, yang hanya menatap hidup dari sedotan kecil.

Untuk sahabat-sahabat Indra ... maaf atas diri ini yang terlalu membelenggu, atas hati yang begitu rakus menyita perhatian dan waktumu. Indra menyayangi kalian, kalian terlalu berarti buat Indra, namun Indra terlalu berlebihan sehingga salah menempatkan dan membuat kalian terdzolimi.

Indra manusia biasa yang penuh alpha, Indra jauh dari cerminan seorang muslimah sholihah, hanya kebetulan kain kerudung Indra menyerupai seorang wanita shalihah. Biar ... biarkan penampilan Indra tetap seperti itu, ijinkan Indra, bukan untuk menodai kesucian kain kerudung syar'i, namun biar itu terus menjadi cambuk pelecut perbaikan diri ini, biar itu jadi proteksi ketika Indra mulai menyimpang terlalu jauh.

Indra manusia biasa yang penuh alpha, sungguh sejatinya tak layak berada diantara sosok-sosok suci pejuang jalan Allah, namun ijinkan indra tetap berada diantara mereka. bukan indra ingin menjadi nila dalam telaga suci, hanya saja Indra ingin terus membersamai mereka agar Indra semakin termotivasi untuk berbenah. agar sisa hidup Indra yang nista ini mampu memberi kebermanfaatan dijalan yang Allah ridhoi.

Indra manusia biasa yang penuh alpha dan noktah dosa, namun biarkan Indra untuk terus belajar dan belajar, memperbaiki yang salah.

maaf ... maafkan Indra
Share on :

2 komentar:

Arif Hidayat said...

waw...

Adit Purana said...

Dek..
Orang yg dulu hendak membunuh Rasul pun, kini terbaring di samping makam beliau; Umar bin Khatthab.
Seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun akhirnya menjadi pedangnya Allah; Khalid bin Walid.
Bila yg dilihat adalah status dan harta. Sepatu emas Fir'aun berada di neraka, sedangkan terumpahnya Bilal berada di surga.

Jadi, Dek.. selalu ada kesempatan untuk berubah. Mumpung belum dijemput malaikat.

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all