. Bahagianya Bahagia - Coretan Pena Anak Bebek .

Sunday, May 4, 2014

Bahagianya Bahagia

Jakarta menjadi saksi cerita, tentang sebuah mimpi, tentang harapan, juga tentang jejak-jejak ikhtiar.

Terus berjuang, mengisi lembar cerita dengan kisah yang bermakna. Menjadi sang penakluk tangguh yang cerdas menaklukkan keadaan sehingga tumbuh menjadi individu yang pantang menyerah. Menerjemah keterbatasan keadaan yang berbanding terbalik dengan mimpi. Oh bukan, bukan hanya menerjemah, namun memaknai kemudian belajar mengerti dan mencari cara agar keterbatasan itu menjadi cambuk pelecut kesemangatan diri untuk tetap bisa meniti jalan menggapai mimpi.

Ini hidup, yang harus dijalani, harus dihadapi, karena lari hanyalah sebuah omong kosong. Lari? Iya lari ... lari menghindar yang pada akhirnya justru menggelinciran kita pada jurang masalah yang jauh lebih dalam, curam dan menuntun kita pada kematian. Mati dalam jasad yang masih bernyawa.

Berjuang ... memenuhi tanggung jawab sebagai si sulung yang merangkap sebagai seorang ibu dan ayah buat si bungsu. Mempersiapkan masa depan yang terbaik untuknya. Terus mensupport agar dia selalu bersemangat menggapai mimpinya menjadi seorang mahasiswa. Mendekap erat hatinya, bisikkan sugesti positif bahwa dia pasti bisa menikmati bangku kuliah seperti kedua kakaknya tanpa belenggu bayang ketakutan tidak adanya biaya.

Si bungsu harus kuliah. Harus! Tiga anak bebek harus memiliki pendidikan yang tinggi, tiga anak bebek harus bisa menjemput sukses. Aku tak peduli dengan mereka yang psimis bahkan mencibir mimpi kami, justru itu yang menjadikanku semakin bersemangat untuk berjuang. Iya ... karena ini mimpi, mimpi harus diperjuangkan, bukan hanya sebuah angan kosong pengisi lamunan dalam sepi.

Aku banyak belajar dari perjuangan 2 tahun lalu, saat si tengah masuk kuliah. Modalku hanya “nekat dan yakin akan pertolongan Allah.” Saat itu aku masih seorang mahasiswa semester 6 yang sudah tidak mendapat subsidi uang saku dari orang tua, aku daftarkan si tengah di kampusku, Alhamdulillah diterima setelah 3 kali mendaftar. Pertolongan Allah amat dekat, aku begitu mudah mendapat pinjaman dari teman-teman untuk biaya masuk kuliah si tengah sampai terkumpul hampir 8 juta, dan alhamdulilah 2 bulan si tengah di bangku kuliah dia lolos beasiswa bidikmisi.

Sekarang, sekarang aku semakin mantap untuk memperjuangkan si bungsu masuk kuliah. Tak ada yang perlu ditakutkan. Aku sudah lulus, dan bekerja. Aku tau, meski biaya hidup dan kuliah si tengah ditanggung penuh oleh bidikmisi bukan berarti sepenuhnya kebutuhan dia bisa ter-cover oleh bidikmisi karena beasiswa sering terlambat cair dan kebutuhan si tengah kadang melebihi anggaran bulanan dari bidikmisi, itu berarti aku masih tetap punya tanggung jawab nafkah terhadapnya. Namun di sisi lain aku jauh lebih tau, Allah sudah mempersiapkan rizki untuk kami, tugasku hanya menjemputnya. Jadi tak ada alasan takut bagiku. Aku bisa, pasti bisa, aku sanggup, pasti sanggup.

Soal sampai saat ini belum ada biaya sama sekali dan masih ada tanggungan sisa hutang buat si tengah waktu itu, bagiku itu hal kecil, itu bukan hambatan, Allah selalu memberi jalan. Aku yakin, pasti ada kemudahan-kemudahan yang tak terduga. Seperti proses pelunasan hutang sebelumnya yang tak terasa sudah lunas 7 juta hanya dari uang gaji kerja serabutan-ku.

Aku tau, aku mengerti, aku pahami, aku percaya, dan AKU YAKIN !!! tak ada yang sulit, tak ada yang berat dalam hidup ini, yang ada hanya sebuah tantangan kecil. Iya kecil, bagi orang-orang yang sanggup menghadapi. Dan dalam setiap tantangan pasti bermuara pada akhir cerita yang indah. Tugasku hanya meniti jalan menuju muara itu dengan kesungguhan ikhtiar, dengan kekhusyukan doa, kemudian aku bingkai dengan berserah, mempercayakan semua pada Allah Azza Wa Jalla.

Kesulitan-kesulitan hidup hanya menghampiri manusia-manusia rapuh yang tak punya keinginan untuk bangkit, manusia-manusia rapuh yang tak mau mendekat pada Sang Pemilik ruh, manusia-manusia pemimpi namun pemalas yang tak ingin menggerakkan jasadnya untuk berjalan menjemput rizki.

Aku bahagia dengan hidupku, aku bersyukur atas kepercayaan Allah terhadap pundakku. Aku tau, aku sadar, aku manusia rapuh, namun Allah selalu memberiku ruang untuk bersandar, hingga pundakku tak pernah terasa berat, hingga kaki ini begitu mudah melangkah menuju ladang rizki dan mengaisnya dengan kesemangatan yang luar biasa, hingga jasad ini tak pernah meronta kelelahan dan tegar menghadapi kesakitan-kesakitan yang masih sering timbul tenggelam akibat sisa-sisa pemulihan sakitku yang belum sembuh sempurna.

Indah, begitu indah ku nikmat, dalam setiap fase hidup yang selalu bermakna.
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all