. Elegi Sebuah Pagi - Coretan Pena Anak Bebek .

Wednesday, October 1, 2014

Elegi Sebuah Pagi

Sista ,,,

Masih begitu jelas dalam memoarku, pertemuan terakhir kita,  10 Dzulhijah 1433 H lalu, engkau tiba-tiba sudah duduk dibelakangku selepas sholat Iid, memelukku erat, bisikkan kangen dan mengucapkan selamat atas wisudaku. Iya ... iya ... itu pertemuan terakhir kita. Dan selepas itu kita tak pernah bertemu lagi, hanya bertegur sapa di sosmed.

Hingga suatu pagi, di penghujung september kudengar engkau telah dipanggil oleh Sang Pemilik ruh. Iya ... engkau telah pergi, pergi untuk kembali pada kehidupan yang haqiqi.

Entah ... pagiku menjadi kelabu. Bukan aku ingkari titah takdir, hanya masih belajar untuk pahami, untuk mengerti.

Diam, merunduk, sendi-sendi kekuatan diri meluruh, menahan bulir air mata agar tetap tertahan, namun nihil, kelopak mataku tak mampu menyangga, aku menangis, terisak dilantai ruang kerjaku, lirih membisik tafakuri ayat-ayat cinta-Nya,

”Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS.3:109)

“apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan kami pasti akan memberi balasan pada orang yang SABAR dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS.An-Nahl:96)

Perlahan pelan, terbata ku mengeja ikhlas. Redam riuh gaduh gemuruh hati dengan basuhan wudhu. Menengadah dalam khusyuk munajah shalat ghaib. Ini persembahan terakhirku untukmu sista, atas persahabatan yang kita bangun tanpa syarat, dengan segenap ketulusanmu berada disisiku tanpa pernah mempermasalahkan status sosialku di masyarakat tempat tinggal masa kecilku.

Sista ... aku banyak belajar darimu, tentang hidup, tentang ketangkasan dalam menggoreskan tinta-tinta indah pada kanvas kehidupan agar tercipta goresan-goresan bermakna dengan kombinasi warna yang harmonis.

Aku belajar dari kelapanganmu dalam penerimaan terhadap titah takdir, tanpa keluh, tanpa mengiba, survive bukan dengan berdiam terkungkung oleh kepasrahan, melainkan terus bergerak dalam kesungguhan ikhtiar mengais keping-keping rupiah sebagai baktimu pada orang tua dan keluarga.

Sista ... selamat jalan. Allah sangat mencintaimu, Allah inginkan engkau segera bertemu denganNya.

Kepergianmu menjadi cermin untuk diriku, juga pelecut untuk terus berbenah, perbaiki yang salah, kemudian berislam secara kaffah, bukan lagi diri yang terjajah oleh nafsu yang buat hati gundah dan resah.

Hidupku adalah persinggahan sejenak, tak ingin berlelah dalam perjalanan yang salah arah. Ku bersimpuh memohon ampun, mendekat padaNya, terus mendekat yang erat tanpa sekat dan tak terlewat agar hati tak cacat, hingga aku bisa naikkan derajat sebagai seorang hamba yang bermartabat dihadapanNya sebagai pundi-pundi bekal menggapai kebahagiaan akhirat.

Seperti  yang tertera begitu indah dalam QS.3:133, “Dan bersegeralah engkau mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Sista ...
Aku akan menyusulmu karena Allah pasti memanggilku, dalam waktu yang tak ku ketahui.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji engkau dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah engkau dikembalikan

~QS.Al-Anbiyaa’:35~
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all