. Kamisku untuk Sabtu Bersama Bapak - Coretan Pena Anak Bebek .

Thursday, July 14, 2016

Kamisku untuk Sabtu Bersama Bapak

"Kamu itu sakit nunda terus ke rumah sakit, malah memprioritaskan nonton." kata tarjo sepulang kerja saat saya meng-cancel check up dan memilih nonton sabtu bersama bapak, karena saya telah menantinya sejak lama.
Bapak, meski telah terpisah dalam kehidupan yang berbeda, nyatanya perannya tetap mampu bersanding bersama tumbuh kembang satya dan saka dalam rekaman pesan bapak yang selalu diputar setiap hari sabtu yang mampu memberikan pengaruh besar pada proses pembentukan karakter satya dan saka.
Saya seperti berada dalam potongan cerita itu, betapa sentuhan bapak dalam mozaik kisah kanak-kanak saya masih melekat erat dalam karakter saya, bahwa saya harus menjadi seperti yang selalu bapak minta saat saya TK, dengan "menjadi juara" yang kemudian dikuatkan oleh persuasi ibu bahwa saya memang harus tetap menjadi juara meski bapak telah pergi.
Saya tumbuh menjadi individu yang sangat ambisius atas mimpi saya, sayangnya saya rendah toleransi dan kurang humanis. Lebih fokus pada pencapaian saya dan mengabaikan hal-hal yang tidak memberikan kontribusi dalam pencapaian saya. Hingga takdir menuntun saya menjadi seorang istri yang ternyata disinilah saya mulai dibawa untuk melihat dunia yang lebih luas, bahwa apa yang saya pegang selama ini akan menjadi petaka jika saya tak mampu melunakkannya, karena hidup saya kini bukan hanya tentang saya tapi juga tentang suami saya dan semua hal yang berkaitan dengannya.
Saya seperti menemukan cerita serupa dengan saya pada rumah tangga satya dan rissa. Bedanya, karakter satya justru ada dalam diri saya, bukan suami saya. Saya seperti menemukan pembenaran bahwa anak yang tumbuh tidak dengan sentuhan langsung oleh bapak akan menjadi individu seperti diri saya maupun satya. Yang kemudian segera disanggah oleh potongan cerita berikutnya tentang rumah tangga satya yang mulai retak akibat karakter satya yang terlalu teguh pada prinsipnya. Kondisi itu baru membaik saat satya mulai melunakkan prinsipnya dan berusaha memahami bahwa kebahagiaan rumah tangga bukan hanya diukur dari prinsip yang dia yakini, melainkan juga dari sudut pandang rissa dan juga anak-anaknya.
Hingga akhirnya disini saya kembali menemukan pembelajaran baru dalam berumah tangga. Bahwa kebahagiaan berumah tangga tidak dapat diukur dari seberapa besar kita berkorban untuk pasangan juga anak-anak (jika sudah ada), melainkan seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidup bersama kita. Boleh jadi mereka terluka karena kita terlalu teguh pada prinsip kita sampai mengabaikan hak mereka yang sebenarnya jauh lebih mudah dan sederhana dibanding apa yang kita korbankan untuk mereka. Berumah tangga bukan hanya cerita yang dilakoni oleh seorang saja, melainkan kolaborasi dari suami juga istri sehingga bukan hanya salah satu pihak saja yang menentukan jalan cerita rumah tangga, setiap keputusan harus hasil kesepakatan dari keduanya sehingga rumah tangga bahagia, bahagia yang sebenarnya bahagia, bahagia yang membahagiakan :)
:: dari indra, bocah ingusan dan sedang belajar keras agar dewasa berumah tangga.
:: untuk kamu yang diam-diam selalu stalking sosmed indra, genggam tangan indra lebih erat, agar indra tak tertinggal jauh dari langkahmu berjalan, agar langkah kita sejajar dan kita bisa banyak bicara tentang hari ini juga cerita esok yang akan kita tempuh.
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all