. Sampaikan, Agar Pasanganmu Mengerti - Coretan Pena Anak Bebek .

Friday, July 8, 2016

Sampaikan, Agar Pasanganmu Mengerti

Beberapa waktu lalu, saya menangis terisak sok melankolis bilang, "pokoknya harus anterin ke LB*, indra engga mau kalau sampai nanti masuk kerja muka indra masih item jerawatan jelek kaya gini."
Saya menangis membabi buta, sampai menelan umb*l banyak dan kesulitan bernafas, masih sempat-sempatnya terus nyerocos, "pokoknya indra engga suka muka indra keliatan jelek. Indra sebel, indra tertekan. Mmaz selalu ngga bolehin, muka indra jadi kaya gini, mmaz engga memfasilitasi indra buat cantik"
Dan lelaki, kadang sisi kepekaannya kurang, tanpa rasa berdosa suami saya hanya menjawab, "indra kan yang pegang semua uang, kapan mmaz larang? Kemarin itu macet parah, tau sendiri kan?"
Perempuan, dalam kondisi emosi karena keinginan tak tercapai, tentunya sulit berpikir jernih, boro-boro bisa ngerti kalau suami menolak menemani ke skincare karena macet, yang ada dalam pikiran adalah suami ogah memfasilitasi istri untuk cantik, pelit, engga perhatian. Padahal jelas-jelas ATM payroll diserahkan ke istri dan diberi kemerdekaan sepenuhnya untuk mengelola.
Saya perempuan jawa yang belum luntur jawanya. Masih sering menggunakan bahasa kode setiap inginkan sesuatu, merasa "pekewuh" kalau harus to the point ingin ini itu, gengsi takut dibilang banyak minta padahal sebenarnya butuh, Seperti kasus diatas contohnya, setiap hari cuma teriak didepan cermin, "muka indra iteman, hidungnya jerawatan, sebel indra." maksud hati agar suami menanggapi dengan ajakan ke skincare, jadi engga keliatan kalau minta.
Suami saya besar dan dididik oleh lingkungan dengan culture yang sangat berbeda dengan keluarga saya, karena kami berbeda suku. Apa-apa harus disampaikan dengan jelas sesuai dengan maksud dan tujuan, sulit memecahkan bahasa kode, dan seperti biasa selalu menjawab dengan tanpa berdosa setiap saya teriak protes kalau dia ngga peka, "mmaz ngga ngerti, apa susahnya tinggal bilang minta itu."
Ribuan menit saya mengukir cerita bersama suami saya, kami sering tersungkur dan cedera karena keduanya sekeras batu dan berjubah keangkuhan. Semuanya merasa telah melakukan cara yang terbaik dalam menjalani perannya sebagai tokoh utama cerita rumah tangga kami, belum saling mengerti bahwa ada yang salah dalam cara kami.
Hingga suatu malam menjelang pagi, setelah suara saya parau karena kelelahan menangis, kali pertama kami berbicara dari hati, saling melepas jubah keangkuhan, belajar mendengar untuk mencari titik yang dicari agar saling pahami. Ternyata titik temunya sangat sederhana, suami inginkan saya to the point dalam memyampaikan apapun, bicara baik-baik dan tidak mudah marah. Sedangkan saya menyampaikan agar suami lebih peka, mengerti yang saya inginkan, kalau tidak faham jangan diam, tetapi bertanya. Tercapailah kesepakatan bersama.
Disinilah sebuah seni baru yang kemudian saya tahu. Komunikasi memegang peran penting bahkan kunci utama untuk bisa saling memahami kebutuhan pasangan. Sediakan quality time untuk saling bicara semua hal yang terpendam dalam hati, bukan hanya keinginan, tapi juga ganjalan, dan berlapanglah untuk saling menerima masukan.
Menikah adalah tentang belajar yang tak berkesudahan, setiap moment, tak selalu bertemu dalam satu muara pemikiran. Menikah bukan hanya dua kepala yang berada dalam satu ruang yang sama, tapi juga dua keluarga besar, dua kebiasaan, juga dua budaya yang butuh penyesuaian untuk bisa saling pahami antar keduanya.
Meleburkan keduanya menjadi sebuah culture baru dari hasil akulturasi budaya yang dibawa suami dan istri tentunya butuh waktu, bukan suatu kondisi yang bisa dibentuk dalam hitungan waktu yang singkat.
Komunikasi yang intens dengan pendekatan hati adalah cara yang dibutuhkan untuk mencapai titik temu yang disebut dengan "mengerti dan memahami", hingga pada akhirnya, rumah tangga akan berjalan tanpa cedera.
::dari Indra, bocah ingusan yang sedang belajar dewasa berumah tangga
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all