. Ternyata Jalan ini Mudah - Coretan Pena Anak Bebek .

Saturday, September 10, 2016

Ternyata Jalan ini Mudah

~Dan lihatlah sayang, betapa nampak jelas binar bahagia dalam sorot mataku, kini aku tak perlu berteriak "aku bahagia" karena mataku telah memberi isyarat tanpa aku harus bicara~
Saya yakin takdir tak pernah salah bidik, Allah selalu memberi rencana dan jalan terbaik bagi setiap hambaNya. Dia tak pernah pilih kasih, memberi ujian satu paket dengan petunjuk jalan keluar dan juga memberi kekuatan agar hambaNya tidak jatuh tersungkur atas ketidakmampuan dirinya menghadapi ujian.
Meski saya juga tidak mengelak, tidak semua orang menyadari akan hal itu, termasuk saya. Saya pernah gagal menghadapi ujian dalam hidup saya hingga memilih terapi psikiatri ke psikiater, walaupun obatnya tidak pernah saya tebus, karena bagi saya saat itu yang penting saya bisa berkonsultasi kepada orang yang berkompeten atas kondisi yang saya hadapi.
Mungkin saya terlalu berlebihan, atau terlalu baper dalam menjalani semua yang harus saya hadapi. Tapi sungguh saat itu sangat berat menjalani hidup sebagai bocah broken home dengan segala masalah di sekitar saya.
Saya tumbuh menjadi balita yang penuh kasih sayang dan berkecukupan secara materi bahkan jauh diatas teman-teman di desa tempat tinggal saya. Sayangnya Kristal indah dalam rumah tangga orang tua saya jatuh terpelanting dalam usia pernikahan yang masih muda, pecah menjadi kepingan sangat runcing yang melukai anak-anaknya, sehingga saya menjadi pincang tanpa seorang ayah, juga buta tuli tanpa kesempurnaan kasih sayang Ibu.
Saat SD saya dikucilkan oleh teman-teman sekolah, sebagian guru, juga tetangga, karena suatu hal yang sangat terkait erat dengan broken home dan tidak bisa saya ceritakan disini. Hal itu begitu berat bagi saya, belia 9 tahunan sudah harus menanggung beban moral sedemikian berat. Inilah titik tolak kenapa saya tumbuh menjadi individu yang introvert dan cenderung tak peduli dengan lingkungan sekitar saya.
Alhamdulillah, sentuhan kasih sayang Allah menuntun saya menuju jalan yang baik, saya begitu bersemangat meraih prestasi akademik sebaik mungkin, agar saya bisa masuk sekolah unggulan di kota saya sebagai pintu pembuka agar saya bisa keluar dari lingkungan tempat tinggal saya saat itu. Saya membangun mimpi setinggi mungkin, agar luka tak semakin membusuk tetapi sembuh oleh pencapaian hidup saya. Allah mengajari saya menjadi yang kuat, meski sejatinya saya sangat lemah. Allah mendekap erat, meski saya sering protes marah dan menuntut agar semua kembali seperti semula.
Alhamdulillah, Allah mudahkan semua jalan, saya lolos di salah satu SMP unggulan di kota saya meski bukan sekolah yang terbaik. Karena saya memang tidak berani menaruh harap ke sekolah terbaik itu dengan latar belakang saya yang bocah desa terpencil, saya takut kalah cerdas dari teman-teman saya apabila saya bersekolah disana, karena yang saya inginkan, saya tetap harus berprestasi agar jalan menuju mimpi saya semakin mudah.
Dan ternyata, Allah sangat mencintai saya. Dia tidak membiarkan saya terlena dengan zona nyaman yang saya jalani. Di tempat tinggal yang baru, tidak semulus yang saya bayangkan, saya memang tinggal bersama pakdhe, tapi semua saudara ayah ingin mengambil peran dalam mengatur hidup saya. Parahnya, ambisi mereka tidak sejalan dengan sikap mereka, saya lebih diperlakukan seperti pembantu yang hanya disapa saat butuh bantuan tenaga saya ketika keluarga besar sedang berkumpul. Itu yang membuat tekad saya semakin kuat bahwa saya harus mampu merubah hidup saya, agar saya tidak lagi menjadi "A child called it" seperti dalam judul buku pertama Dave pelzer.
Alhamdulillah, dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan, istri Pakdhe yang mengasuh saya sangat menyayangi saya, memenuhi segala kebutuhan saya sampai urusan perempuan yang paling detail, selalu mensupport saya, dan menuntun agar saya dekat dengan Sang Pemilik Hidup. Sehingga membuat saya mampu mengabaikan orang-orang yang mengkerdilkan saya, yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana saya harus bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya dan membahagiakan orang-orang yang menyayangi saya.
Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan saya sampai bangku kuliah melalui kasih sayang simbah saya dari pihak Ibu, beliau yang membiayai kuliah saya. Allah ... Sungguh jalan ini mudah, tak ada yang sulit, hanya kadang manusia yang kurang bersyukur atas nikmat yang luar biasa dalam hidupnya.
Prestasi saya dibangku kuliah biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang tidak berprestasi, IPK saya hanya 3,28. Tapi saya bahagia. Allah mudahkan saya mendapat beasiswa, juga rejeki Dari jalan lain melalui jualan gamis, bros, juga mengajar privat. Dari sinilah saya bisa hidup berkecukupan sebagai seorang mahasiswa dan memakai barang-barang branded mulai Dari sepatu, pakaian, tas, bahkan atk. Meski di akhir semester saya harus jungkir balik karena sudah tidak mendapat uang saku dan kesehatan saya semakin tidak bersahabat yang membuat saya harus berurusan dengan kamar rawat inap juga check up rutin di Dokter spesialis sebuah rumah sakit besar di Kota saya kuliah. Ah iya ... Ini teguran dari Allah agar saya tidak terlena dengan limpahan kasih sayang yang Dia anugerahkan untuk saya.
Allah kembali menunjukkan cintanya yang maha dahsyat, Kali ini berkah untuk adik perempuan saya. Setelah lolos di kampus saya melalui jalur regular, dia lolos beasiswa bidikmisi susulan. Akhirnya dia bisa merasakan bangku kuliah setelah hampir putus asa karena keadaan waktu itu tidak memungkinkan.
Pasca lulus sidang TA, saya langsung bekerja meski tidak linear dengan pendidikan saya. Bagi saya saat itu yang penting saya bekerja agar bisa melunasi hutang 9,8 juta yang saya pakai untuk biaya hidup saya di semester akhir juga biaya adik saya sebelum mendapat beasiswa bidikmisi. Dan sungguh, Allah sangat memudahkan jalan ini, Allah kirimkan manusia-manusia baik yang tidak menagih hutang saya sampai saya mampu membayar, bahkan membayarnyapun saya cicil dan hutang itu lunas baru 1,5 tahun setelah saya lulus kuliah.
Saya saat ini memang belum mampu meraih mimpi-mimpi saya 16 tahun yang lalu. Bahkan saya sering gagal dalam seleksi pegawai untuk pekerjaan yang linear dengan pendidikan terakhir saya. Tapi saya bersyukur atas anugerah yang Allah limpahkan kepada saya, kadang saya masih seperti bermimpi bahwa Allah telah mengantar saya sampai sejauh ini. Sungguh, ini cinta yang luar biasa Dari Sang Pemilik kehidupan kepada hambanya.
Allah pertemukan jodoh saya dengan sangat mudah, meski saya sadari cara saya salah karena bukan dengan jalan syar'i. Saya punya alasan kuat kenapa menghindari jalan itu yang tidak perlu saya sampaikan disini untuk menghindari perdebatan. Suami saya satu kampus dengan saya, Dan pernah satu kelas di MKU PAI, kami pernah saling meminjam pulpen untuk tanda tangan presensi saat dosen tidak datang, tapi kami baru saling dekat pasca saya lulus. Bermula dari saling cerita prestasi kami di bangku sekolah sampai berbagi tentang resolusi masa depan kami, disini kami merasa cocok dan berkomitmen untuk membangun rumah tangga bersama, meski saya harus menunggu beberapa waktu karena suami saya saat itu masih skripsi.
Saya suka kerja keras suami saya, meski harus berurusan dengan skripsi dalam waktu yang cukup panjang, prestasi akademik dia bagus, Dan dia mampu memetakan masa depan dengan baik, dia ambisius, tapi realistis. Ambisinya mampu dia imbangi dengan kerja kerasnya. Pasca lulus dia langsung bergerak mengeksekusi satu persatu rencananya. Bukan hanya plan A, tapi juga plan B dia eksekusi dengan baik sebagai jalan keluar apabila plan A gagal.
Alhamdulillah, dia lolos seleksi penerimaan mahasiswa S2 di UI, disusul lolos seleksi beasiswa LPDP yang juga bersamaan dengan pengumuman final seleksi pegawai di sebuah perusahaan ternama milik BUMN dibidang MRO. MasyaAllah, begitu luar biasa Allah mudahkan jalan rejeki kami. Saya sempat marah ketika dia memutuskan memilih plan B dengan melepas S2 dan beasiswa LPDP yang sudah dia impikan sejak kuliah, bahkan saya melihat betul betapa dia jungkir balik memperjuangkannya. Namun dengan tegas dia menjawab, "realistislah ndra, aku bertanggung jawab menafkahimu. Bekerja adalah pilihan paling realistis saat ini. Aku tetap akan kuliah lagi kok, tapi belum saat ini." Melelehlah tangis haru saya, betapa dia sangat bertanggung jawab atas diri saya, seorang perempuan yang baru seumur jagung hadir dalam kehidupannya.
Alhamdulillah, Allah selalu memberi kemudahan dalam rumah tangga kami. Jalan rejeki kami sangat mudah, kami merintis rumah tangga benar-benar tanpa tabungan. Uang saya selama saya bekerja saya simpan untuk biaya kuliah adik bontot saya di rekening tabungan yang tidak pernah saya otak atik, jadi saya anggap 0. Suami saya baru 2 minggu bekerja otomatis belum gajian. Namun Allah tidak membiarkan kami dalam kesulitan, kami mendapat bekal uang dari Pakdhe yang mengasuh saya selama ini yang cukup untuk biaya hidup sebelum suami gajian, tinggal di hotel sebelum mendapat kontrakan, dan untuk membayar uang muka sewa rumah di lingkungan yang bagus.
Alhamdulillah, rezeki begitu mudah Allah berikan, kami bisa melunasi biaya sewa rumah selama setaun kedepan, hidup tanpa kekurangan keuangan, 6 bulan bekerja suami telah menjadi pegawai tetap, dan masyaAllah Allah memudahkan kami membeli rumah di cluster, suatu limpahan rejeki yang bener-benar tidak kami sangka bisa kami dapatkan secepat ini.
Sekarang, adik perempuan saya telah lulus kuliah, dan bekerja di kantor suami saya setelah sebelumnya juga mendapat banyak kemudahan lolos seleksi di perusahaan perbankan milik asing dan Ind*f**d. Namun takdir menuntun adik saya berada di sini, dan saya yakin ini adalah pilihan yang terbaik menurut Allah.
Alhamdulillah, setelah 2 tahun gagal SBMPTN, adik bontot saya sekarang kuliah di universitas swasta di kota Yogyakarta. Saya dan adik perempuan saya saling berbagi peran untuk membiayainya.
Sungguh, apa yang saya tulis tidak ada maksud riya sedikitpun. Hanya ingin berbagi, bahwa Allah selalu memberi ujian satu paket dengan kemudahan jalan keluar, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk merubah nasib hidup hambanya.
Kami bertiga, yang sering saya sebut "tiga anak bebek" tidak pernah menyangka akhirnya bisa hidup seperti saat ini, dan ini bukti nyata bahwa "sesudah kesulitan ada kemudahan" yang Allah tekankan sebanyak 2 kali dalam QS.Al-Insyirah: 5-6.
Haii engkau yang sedang terluka karena beratnya ujian hidup, jangan berkecil hati, yakinlah Allah selalu ada disisimu untuk menguatkan dan menuntunmu menuju jalan keluar.
::Dari Indra, yang pernah tersungkur karena gagal bersyukur.
Share on :

0 komentar:

Post a Comment

 
© Copyright Coretan Pena Anak Bebek 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all